Breaking News

PKS dan Bangsa Verbal Aggression

Jika saja Jaya Suprana membuat rekor MURI untuk kategori partai yang
paling banyak dihujat di dunia maya, pasti pemenangnya PKS. Mau bukti?
Lihat saja situs berita (detik.com, vivanews.com, kompas.com,
okezone.com, dll) yang memuat kabar tentang PKS. Lalu klik kolom
komentar dibawahnya. Deretan panjang komentar akan segera kita temui.
Kalimatnya penuh hinaan, caci maki, hujatan dan sumpah serapah. Tak enak
dibaca dan tak pantas didengar. PKS seakan jadi musuh bersama dan
menjadi partai yang paling bobrok di Indonesia.
                                                                                                           
Kasus mutakhir ketika PKS memutuskan mendukung Foke-Nara dalam Pilgub
DKI Jakarta putaran kedua. Langkah ini dikomentari dengan penuh semangat
luar biasa oleh para netter. “PKS plin plan”, “PKS= Partai Korupsi
Selalu”, “PKS jilat ludah sendiri”, “PKS partai munafik”, adalah sedikit
contohnya. Belum lagi kata-kata kasar yang sangat tak pantas
ditampilkan di artikel ini.
Saya sempat menjelejah kompas.com yang memberitakan rencana PKS
melaporkan pihak tertentu yang menyebarkan fitnah terkait dukungan
kepada Foke-Nara. Saat itu tercatat sebanyak 888 komentar dan mayoritas
berisi kalimat negatif. Luar biasa!
Kuat dugaan saya, andaikata PKS akhirnya mendukung Jokowi-Ahok, hujatan
serupa pasti akan diterima. Kira-kira begini komentarnya: “PKS partai
bunglon”, “PKS partai oportunis”, “PKS partai pragmatis”, dan
sebagainya. Singkat kata: apapun yang dilakukan PKS, hinaan dan caci
maki akan datang bertubi-tubi. Serasional dan sebanyak apapun
argumentasi PKS, tetap saja gelombang hujatan datang mendera.
Fenomena ini mengingatkan saya pada materi Membangun Kecerdasan Emosi
dan Sosial Anak dalam Konferensi Pendidikan Anak Usia Dini, di Jakarta,
dua tahun lalu yang disampaikan dua pakar dan praktisi pendidikan anak
dari Florida, AS: Pamela Phelps, Ph.D dan Laura Stannard, Ph.D. Menurut
keduanya, ada empat tahapan penyelesaian konflik yaitu: Pasif (Passive),
Serangan Fisik (Physical Aggression), Serangan Bahasa (Verbal
Aggression), dan Bahasa (Language).
Tahapan pertama Pasif (Passive). Pada tahap ini, anak hampir tidak
melakukan kontak sosial dan komunikasi dengan lingkungan. Tahapan ini
dialami oleh para bayi yang belum bisa bicara dan berbuat banyak,
terlebih menyelesaikan masalahnya.
Tahap kedua adalah Serangan fisik (Physical Aggression). Anak-anak usia
praTK (sekitar 2-3 tahun) seringkali menyelesaikan masalah dengan
melakukan serangan fisik berupa: tantrum (marah), berteriak, menggigit,
menendang, memukul, atau melempar benda. Ia belum mempunyai
perbendaharaan kata- kata untuk mengatasi persoalannya. Saat
menginginkan mainan, seorang anak akan langsung merampas atau ketika
marah pada temannya ia akan langsung memukul.
Tahap ketiga yaitu Serangan Kata-kata (Verbal Aggression). Ketika anak
menginjak TK sekitar 4-6 tahun maka serangan fisik akan berkurang namun
mereka mulai memahami kekuatan kata-kata. Mereka akan bergerak ke tahap
‘serangan kata-kata’. Anak perempuan usia 4 tahun kadang berkata:
“Bajumu jelek!” atau “Kamu tidak boleh datang ke pesta ulang tahunku!”
Tahap keempat yaitu Bahasa (Language). Tahap ini, seorang anak sudah
dapat menyelesaikan masalah dengan bahasa: kalimat yang positif, tidak
kasar dan tidak menghakimi. Penggunaaan bahasa seperti ini merupakan
cermin dari kematangan dan pengendalian emosi yang baik. Anak-anak yang
akan masuk sekolah dasar sebaiknya sudah sampai pada tahapan bahasa
untuk mengatasi persoalannya. Contoh: ketika seorang anak sedang membuat
bangunan dengan balok, seorang teman menyenggol bangunannya. Anak itu
berkata, “Aku tidak suka, kamu merobohkan rumahku.” Kemudian temannya
itu menjawab, “Maaf aku tidak sengaja!” Masalah selesai dan kedua anak
itu melanjutkan pekerjaannya.
Bercermin dari empat tahapan di atas, kasus hujatan kepada PKS secara
jelas mengindikasikan kebanyakan masyarakat kita masih pada tahap verbal
aggression. Kebanyakan anggota bangsa ini masih senang menyerang orang
dengan kata-kata hinaan yang kasar. Ini terjadi karena tahapan tersebut
tak dilalui dengan tuntas saat masih anak-anak.
Ironis tentu saja mengingat orang-orang yang mengakses internet
mayoritas berpendidikan dan dari kalangan perkotaan. Dan lebih
menyedihkan lagi, penyakit ini juga diidap oleh para pengamat yang
notabene bergelar S2 dan S3.
Di sebuah situs berita, seorang pengamat politik dari universitas
terkemuka ikut-ikutan melakukan verbal aggression kepada PKS. “PKS telah
melakukan pendidikan politik yang buruk kepada masyarakat karena
mendukung Foke,” katanya.
Lalu, dimana ia dan pengamat politik lainnya ketika PKS tak membolehkan
kadernya yang menjadi menteri merangkap sebagai pengurus partai? Mengapa
mereka tak berkata bahwa PKS telah melakukan pendidikan politik yang
baik untuk bangsa ini?
Lalu dimana mereka (pengamat dan para netter) ketika di PKS tak ada
tradisi rusuh dan politik uang ketika menggelar pergantian pimpinan
partai? Mengapa mereka tak berkomentar bahwa ini adalah pendidikan
politik yang patut diteladani?
Lalu dimana mereka ketika PKS hingga kini menjadi partai yang jauh lebih
bersih dari korupsi dibandingkan partai lain? Mengapa mereka tak
berkoar-koar bahwa PKS partai bersih dan harus menjadi role model partai
di Tanah Air?
Dimana mereka…? Dimana mereka…? Sunyi senyap. Tak terdengar apresiasi
sedikitpun dari mulut mereka ketika PKS melakukan kebijakan-kebijakan
politik yang positif.
Pertanyaan selanjutnya: dosakah mendukung Foke-Nara? Apakah PKS tidak
pro perubahan? Apakah PKS partai munafik karena kini mau bergabung ke
Foke meski dulu berseberangan? Jawaban pertanyaan ini adalah:
Pertama, Politik tidak hitam putih. Dalam literatur politik manapun
kerap disebutkan bahwa politics is art of possible. Kalau politik itu
kaku dan hitam putih, PKS sudah pasti tak akan terjun ke politik. Kalau
politik itu hitam putih, tentu saja PKS tak akan pernah mau berkoalisi
atau mendukung orang atau partai yang kadernya sering korupsi. Karena
PKS itu berhak mengklaim dirinya sebagai partai bersih berdasarkan data
dan fakta di lapangan. Politik itu ekuivalen dengan dakwah. Harus
mengayomi, mengajak, merangkul, saling bergandengan tangan dengan
sebanyak mungkin orang.
Kedua, pro perubahan atau tidak, bukan ditentukan oleh sikap PKS
mendukung Jokowi atau tidak. Jika mendukung Jokowi berarti pendukung
perubahan, bagaimana kita menjelaskan kasus-kasus yang membelit partai
pendukung Jokowi? Mulai dari korupsi, amoral, asusila, dan sebagainya.
Jadi dukung Jokowi=Pro perubahan adalah opini yang menyesatkan dan
membahayakan. Bukankah kasus-kasus tersebut menjadi indikasi kuat anti
perubahan?
Ketiga, apa salahnya PKS berbalik mendukung Foke walau di putaran
pertama menjadi competitor? Terlalu banyak contoh politik dimana dulu
satu sama lain berseberangan, di kemudian hari justru bergandengan
tangan.
Akhirnya, Verbal aggression harus dihentikan karena sarat dengan
nilai-nilai subjektifitas, sinisme, tendensius, egoistis dan kebencian
tanpa alasan. Verbal aggression jauh dari sikap objektif, rasional,
santun dan bermoral.
Tapi nampaknya, penyakit ini sulit sembuhkan dalam waktu singkat. Dan
kita pun akan terus melihat para pengidap verbal aggression di negeri
ini menghujat setiap langkah yang dilakukan PKS dan anggotanya. Apakah
Jaya Suprana akan tergerak memberikan rekor MURI?

sumber: kompasiana.com

Tidak ada komentar