IPB Desak Pemerintah Lakukan Uji Arsenic Pada Areal Pertanian Lokal
![]() |
| Ilustrasi/beras sehat/blogspot.com |
KBRN, Bogor : Kawasan pertanian di bagian barat Kabupaten Bogor dalam
kondisi kritis terutama areal pertanian warga yang berada di kawasan
Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Kecamatan Cibungbulang hingga areal
pertanian di sepanjang aliran sungai Cikaniki yang tercemar akibat
limbah mercury penambangan emas tanpa izin (red: PETI).
Salah satu dampaknya adalah tingginya kadar Arsenic pada hasil
pertanian, khususnya beras yang merupakan sumber karbohidrat utama
masyarakat Indonesia.
Setelah sempat beredar beras mengandung bahan pemutih atau klorin di
pasaran, kini masyarakat kembali di resahkan dengan masuknya beras Impor
asal Amerika dan Thailand dengan kadar arsenik atau kimia berbahaya.
Lemahnya pengawasan pemerintah terhadap peredaran beras di pasaran
harus menjadi perhatian serius dengan cara membentuk Tim khusus untuk
mensertivikasi kadar beras yang beredar.
Peneliti dan Pengembang Teknologi Pangan IPB , Dr. Yadi Haryadi
menjelaskan harus ada penguatan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan
untuk meminimalisir peredaran beras dengan kadar arsenik di luar ambang
batas normal.
"Pemerintah harus mengambil peranan melalui Badan POM untuk membuat
standarisasi peredaran beras di pasaran, tidak hanya zat arsenic saja
akan tetapi zat kimia berbahaya lainnya yang berasal dari penggunaan
pupuk dan pestisida kimia," ujarnya dalam dialog pertanian di kampus IPB
Dramaga Bogor, Rabu (10/10).
"Arsenic merupakan zat kimia yang di bawa oleh beras sejak dalam
proses penanaman hingga pengolahan menjadi bulir-bulir yang kita temui
dan itu terjadi simultan akibat pencemaran limbah kimia pada lahan
persawahan," ungkapnya.
Kadar arsenic pada beras yang di bolehkan adalah 0.5 miligram per
kilogram, namun saat di lakukan penelitian di Lab IPB, rata-rata beras
yang beredar di pasaran berada di atas ambang batas dan harus segera di
ambil langkah.
Konsumsi Arsenic berlebih dalam kurun waktu tertentu menjadi penyebab
penyakit kanker dan gangguan pencernaan. Beras dengan kadar arsenic
hanya bisa di lihat melalui mikroskop dan uji laboratorium.
"Untuk orang yang beratnya 60 kg , maksimal mengkonsumsi maksimal
0,12 miligram perhari kalo lebih dari itu selama seumur hidup menjadi
penyebab kanker," pungkasnya kepada RRI.
Tersiar kabar bahwa beras impor asal Thailand diduga mengandung arsenik yang bisa membahayakan tubuh.
Arsenik yang terkandung dalam beras merupakan hasil dari proses
alamiah yang menyebabkan elemen racun tersebut terakumulasi mulai saat
beras tersebut ditanam hingga tumbuh. Kadarnya tidak bisa di kurangi
hanya dengan mencucinya hingga bersih.
Untuk itu IPB melalui riset dan peneliti yang di terjunkan mendesak
pemerintah segera membuat sampling dan mengeluarkan standarisasi bagi
komoditas pangan utama tersebut.
sumber:rri.co.id

Tidak ada komentar
Posting Komentar