Guru Bagi Anak-Anak yang Mulia
![]() |
| ilustrasi/alqolam.com |
Allah SWT telah mengajarkan kepada manusia pertama yaitu Nabi Adam
as, nama benda-benda yang ada di alam semesta. Prosesi pengajaran
tersebut merupakan pembelajaran bagi kita untuk meniru bagaimana cara
Allah SWT menciptakan sebuah sistem belajar mengajar. Di mana Allah SWT
berperan sebagai Maha Guru yang memiliki sifat sumber kebenaran dan
Kebenaran itu sendiri yaitu Allah Yang Maha Benar dan apa yang
difirmankan-Nya juga pasti benar. Demikian pula seluruh manusia
sesungguhnya telah dididik oleh Allah SWT dengan perantaraan kalam
tentang segala pengetahuan yang ada di alam semesta dan semua yang
diajarkan kepada manusia adalah kebenaran. Dalam penciptaan langit dan
bumi, serta silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi
orang yang berfikir. Sampai saat sekarang pun Allah SWT terus mendidik
kita tiada henti.
Jika melihat bagaimana cara Allah mengajarkan
kepada Nabi Adam as dan kita semua hingga saat ini, maka kita bisa
meniru dan menerapkannya dalam sistem pendidikan kita. Di mana aspek
utama yang akan kita bidik adalah sosok sang pendidik. Pendidik yang
kita kenal sebagai Guru adalah seseorang yang memiliki kompetensi untuk
mentransfer ilmu dari Yang Maha Benar kepada siswanya untuk mengamalkan
kebenaran agar kebenaran dari Al Haq menjadi petunjuk bagi manusia dalam
menjalani kehidupan di dunia.
Figur guru inilah yang akan kita
bedah, sejauh mana kualifikasi dan kompetensi para guru dalam
mentransfer nilai-nilai kebenaran ilmu pengetahuan untuk mendidik
siswanya dengan metode yang dicontohkan oleh Yang Maha Benar agar para
siswa menjadi manusia-manusia yang memenuhi standar penciptaan yaitu
sebagai khalifah Allah di bumi (QS. 2: 28). Inilah sesungguhnya yang
menjadi dasar dari falsafah pendidikan Islam bahwa sebanyak apapun ilmu
pengetahuan yang diajarkan kepada para siswa semuanya akan bermuara
kepada tujuan penciptaan manusia yaitu menjadi Khalifah fil Ardl.
Mengapa yang kita bidik adalah sosok sang guru? Karena guru berperan sangat penting dalam men-shibghah (mensetting)
murid-muridnya. Sebagaimana Allah SWT men-shibghah manusia pertama
yaitu Nabi Adam as. Guru sangat berperan dalam membuat Grand-Desain
sistem pendidikan yang akan dicapai. Guru-lah yang mendesain metode
pembelajaran secara kompatibel. Guru-lah yang mentransfer nilai dasar
ilmu pengetahuan sesuai nilai kebenaran yang diajarkan oleh Yang Maha
Benar. Guru-lah yang mengawal para muridnya menjadi pribadi berkarakter.
Pribadi masa depan yang akan memimpin bangsa dalam berbagai bidang
sesuai kompetensinya masing-masing. Guru-lah yang sesungguhnya terus
menerus mendidik murid-muridnya. Sebagaimana Allah SWT yang selalu
mendidik manusia tanpa batas.
Karena alasan itulah kita melihat
bahwa sesungguhnya peran guru sangat penting. Beruntunglah bagi para
guru yang sangat menyadari perannya. Betapa banyak kebaikan yang bisa
dipetik oleh para guru ketika melihat para muridnya tumbuh menjadi
manusia sukses, pribadi-pribadi yang mulia dan berkarakter baik.
Merekalah yang akan mengubah dunia ini menjadi apa yang dikehendaki
Allah SWT. Dunia saat ini membutuhkan manusia-manusia berkarakter yaitu
manusia Tauhid. Membumikan ayat-ayat Allah SWT. Mengelola dunia sesuai
dengan yang diinginkan Allah SWT yaitu kehidupan yang mulia dan
memuliakan.
Untuk memulai semua itu, marilah kita ikuti tahapan
yang telah diajarkan oleh Allah SWT, di mana ending point-nya adalah
mendidik manusia menjadi khalifah fil ardh (Khalifah Allah di bumi).
Pertama,
Berusahalah menjadi guru yang memegang sumpah dan janji kepada Allah
SWT dalam awal penciptaan manusia yaitu bersaksi bahwa Allah SWT adalah
Rabb manusia yang senantiasa mendidik manusia dengan Rahmat-Nya.
Fokuslah bahwa apa yang dilakukan guru kepada para muridnya adalah
bertujuan untuk mendidik dengan penuh kasih sayang agar para muridnya
menjadi orang-orang yang selalu berkasih sayang kepada sesamanya.
Kedua, Berusahalah
menjadi guru yang selalu taat kepada Allah SWT, sebagaimana tujuan
diciptakan manusia adalah untuk menyembah Allah SWT. Dalam logika yang
sederhana diungkapkan, jika guru taat kepada Allah SWT, maka insya Allah
para muridnya juga akan taat kepada guru. Karena guru senantiasa
mengajak para muridnya untuk belajar dan belajar adalah perintah Allah
SWT. Sehingga ketika murid-muridnya tekun belajar sesungguhnya mereka
patuh dan taat kepada Allah SWT. Belajar adalah bagian dari ketaatan
kepada Allah SWT. Oleh karena itu patuhlah kepada Allah, niscaya para
murid akan patuh kepada guru.
Ketiga,
Berusahalah menjadi guru yang ikhlas dalam menyampaikan ilmu. Tempat
bersemayamnya ikhlas adalah di hati. Oleh karena itu sampaikanlah nilai
kebenaran ilmu pengetahuan dari ketulusan hati. Ikhlaslah dalam
mendidik, sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada Rasulullah SAW
untuk membaca (Iqra’) dengan ikhlas. Mulailah setiap mengajar dengan
selalu menyebut asma Allah untuk membuka pintu-pintu rahmat Allah.
Niscaya para murid akan menerima pelajaran dengan ikhlas dan akan
senantiasa mengharap rahmat-nya. Keberhasilan utama seorang guru tidak
hanya ketika para muridnya mendapat nilai yang baik saja (secara
kuantitatif) tetapi juga ketika melihat muridnya tumbuh menjadi pribadi
yang ikhlas dalam belajar dan mengamalkan pengetahuannya.
Keempat,
Berusahalah menjadi guru untuk bisa tampil sebagai teladan utama bagi
para muridnya. Sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW yang telah ditetapkan
oleh Allah SWT untuk menjadi uswatun hasanah bagi mereka yang mengharap
rahmat Allah SWT. Sungguh, guru merupakan sosok yang selalu dilihat
oleh para muridnya. Dalam bertutur kata dan bersikap serta dalam
berbagai aktivitas lain sehari-hari. Seorang guru hendaklah tidak hanya
memberi contoh tetapi jadilah contoh bagi kebaikan dan kemuliaan hidup.
Jika guru bisa menjadi teladan utama bagi muridnya, maka lihatlah para
murid akan tumbuh menjadi manusia-manusia teladan bagi generasinya
masing-masing. Di sinilah sesungguhnya keberhasilan seorang guru yang
terus menerus menjadikan kehidupan selalu baru dan terbarukan.
Bersabarlah untuk menjadi teladan. Ingatlah bahwa sesungguhnya Allah SWT
telah mengajarkan kepada kita tentang kesabaran, tetapi Allah SWT tidak
pernah mengajarkan kepada kita tentang batas kesabaran. Oleh karena itu
tetaplah sabar sampai kapan pun dan mohonlah kepada-Nya agar Allah SWT
selalu bersama kita dalam menjalani kesabaran.
Kelima,
Berusahalah menjadi guru yang baik bagi diri sendiri. Sebagaimana Allah
SWT mengingatkan kepada kita bahwa sesungguhnya jika melakukan
kebaikan, maka kebaikan itu adalah untuk diri kita sendiri. Demikian
pula seorang guru yang berperan sebagai penyampai ilmu pengetahuan
kepada muridnya tentunya merupakan pribadi yang bisa memimpin dirinya
menjadi diri yang baik. Seluruh perangkat anggota jasmani dan ruhani
difungsikan untuk hal-hal yang baik. Pandangan matanya selalu melihat
kebaikan, selalu berpikir yang baik, setiap langkah kakinya akan
diarahkan menuju tempat-tempat yang baik. Singkatnya, seorang guru mampu
mendidik jiwa dan raganya untuk melakukan kebaikan. Karena tubuhnya
diibaratkan sebuah sistem di mana Hati adalah guru, sedangkan anggota
tubuh yang lain adalah muridnya, maka jika hati baik maka baiklah
seluruh perbuatan anggota tubuh lainnya, tetapi jika hati buruk maka
buruklah seluruh perbuatan anggota tubuh lainnya. Oleh karena itu
jadilah guru yang hatinya selalu baik, niscaya akan terlahir murid-murid
yang hatinya baik. Hati yang baik akan melahirkan perbuatan baik.
Karakteristik
guru tersebut tentunya bukanlah harapan satu-satunya untuk keberhasilan
pendidikan, tetapi dengan beberapa kriteria tersebut diharapkan akan
lahir para guru teladan yang akan memberikan segenap kompetensinya demi
membangun pribadi-pribadi mulia di masa depan.
Bisa kita bayangkan
betapa indahnya masa depan generasi anak-anak kita ketika mereka
mendapatkan pendidikan dari para guru yang mulia dan berkarakter. Para
murid yang dididik oleh guru yang mulia akan tumbuh menjadi generasi
yang memuliakan kehidupan dan senantiasa setia pada kebenaran. Hal itu
akan berbeda ketika para murid dididik oleh guru yang tercela, tentunya
mereka akan tumbuh menjadi generasi yang merendahkan kehidupan dan
memburukkan keadaan dan akan senantiasa membela kebathilan.
Oleh
karena itu menghadirkan para guru teladan yang akan menjadi guru bagi
kehidupan yang mulia bagi anak-anak kita menjadi sangat penting untuk
memperbaiki kualitas generasi masa depan anak-anak kita.
Marilah
kita semua berkomitmen dan fokus untuk membangun pendidikan yang kokoh
dengan menegakkan pilar kebenaran dari Yang Maha Benar. Menghadirkan
Guru yang mulia dan memuliakan anak-anak didiknya. Insya Allah, kita
melihat anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi mulia yang memuliakan
kehidupan. Pribadi yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Generasi
RAHMATAN LIL’AALAMIIN.
Semoga Allah SWT menghadirkan para guru
yang mulia untuk melahirkan peradaban Islam, peradaban yang menjadi
Rahmat bagi seluruh alam. Amin yaa robbal’aalamiin.

Tidak ada komentar
Posting Komentar