Ini 4 Seruan Hasil Silatnas #IndonesiaTanpaJIL
![]() |
| silatnas Indonesia tanpa JIL/islamedia |
Pada 10 November 1945, lantang takbir dan pekik merdeka membahana untuk
yang ke sekian kalinya, mengiring perjuangan bangsa Indonesia mengusir
penjajah, mengusir imperialisme dan kolonialisme.
Selang enam puluh tujuh tahun kemudian, 10 November kemarin, suara-suara perjuangan itu masih setia tak mengkhianati negerinya, mewujud dalam gerakan generasi baru yang relevan dengan tantangan masa kini, melawan isme-isme yang bersalin rupa menjadi sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme namun hakikatnya sebentuk penjajahan juga.
Gerakan baru yang lahir dari grassroots kaum muda Indonesia dan menamakan diri IndonesiaTanpaJIL itu, baru saja melangsungkan Silaturahim Nasional yang pertama di Cikole, Bandung sejak 10 - 11 November. Perwakilan dari berbagai chapter (cabang) seluruh Indonesia datang menebas jarak demi bersilaturahim dan konsolidasi.
Selang enam puluh tujuh tahun kemudian, 10 November kemarin, suara-suara perjuangan itu masih setia tak mengkhianati negerinya, mewujud dalam gerakan generasi baru yang relevan dengan tantangan masa kini, melawan isme-isme yang bersalin rupa menjadi sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme namun hakikatnya sebentuk penjajahan juga.
Gerakan baru yang lahir dari grassroots kaum muda Indonesia dan menamakan diri IndonesiaTanpaJIL itu, baru saja melangsungkan Silaturahim Nasional yang pertama di Cikole, Bandung sejak 10 - 11 November. Perwakilan dari berbagai chapter (cabang) seluruh Indonesia datang menebas jarak demi bersilaturahim dan konsolidasi.
Berikut inilah 4 Seruan Utama yang dihasilkan Silatnas IndonesiaTanpaJIL
sebagaimana dikutip Islamedia dari akun Twitter TanpaJIL
#IndonesiaTanpaJIL Menuntut Penghentian Liberalisasi Pelajar dan Mahasiswa
Hampir setiap hari kita melihat perilaku pelajar dan mahasiswa yang semakin jauh dari nilai-nilai agama. Mulai dari tawuran, narkoba hingga gaya hidup liberal yang menjerumuskan mereka ke dalam pergaulan bebas.
Kondisi tadi diperparah dengan sistem dan kurikulum pendidikan yang tidak mendekatkan kita pada nilai-nilai agama. Porsi pelajaran agama yang hanya 2 jam pelajaran per pekannya, serta pendidik-pendidik dengan pemikiran 'ngawur' yang makin menjamur.
Ada dosen (pendukung LGBT) yang dengan gagahnya ajarkan bahwa Allah hanya lihat taqwa, bukan dari orientasi seksualnya. Ada juga yang dengan beraninya menuliskan lafadz "Allah" hanya untuk diinjak-injak di depan kelas.
Karena pendidik "ngawur" seperti itulah, lahir generasi yang dengan percaya diri mengatakan "selamat datang di kampus bebas tuhan" dan berteriak lancang, "mari kita berdzikir Anjinghu Akbar". Astagfirullah.
Demi menyelamatkan generasi muda Indonesia, #IndonesiaTanpaJIL menyeru:
- Kepada pemerintah, melalui Kemendikbud, untuk menghentikan liberalisasi agama dalam kurikulum pendidikan di Indonesia
- Kepada para pendidik, untuk berani menolak kurikulum pendidikan yang menjurus pada liberalisasi agama yang dipaksakan kepada mereka
- Kepada media massa, untuk mendukung upaya penyelamatan generasi muda Indonesia
- Kepada orangtua, untuk memperhatikan penanaman nilai-nilai agama kepada anak-anaknya, karena keluarga dalah benteng terakhir moralitas generasi
#IndonesiaTanpaJIL adalah gerakan simpatik yang peduli terhadap bahaya pendangkalan aqidah umat Muslim. Gerakan ini didukung oleh akademisi, cendekiawan, kaum profesional, aktivis mahasiswa, pelajar, ibu rumah tangga, dan selebritis.
#IndonesiaTanpaJIL Menuntut Penghentian Liberalisasi Pelajar dan Mahasiswa
Hampir setiap hari kita melihat perilaku pelajar dan mahasiswa yang semakin jauh dari nilai-nilai agama. Mulai dari tawuran, narkoba hingga gaya hidup liberal yang menjerumuskan mereka ke dalam pergaulan bebas.
Kondisi tadi diperparah dengan sistem dan kurikulum pendidikan yang tidak mendekatkan kita pada nilai-nilai agama. Porsi pelajaran agama yang hanya 2 jam pelajaran per pekannya, serta pendidik-pendidik dengan pemikiran 'ngawur' yang makin menjamur.
Ada dosen (pendukung LGBT) yang dengan gagahnya ajarkan bahwa Allah hanya lihat taqwa, bukan dari orientasi seksualnya. Ada juga yang dengan beraninya menuliskan lafadz "Allah" hanya untuk diinjak-injak di depan kelas.
Karena pendidik "ngawur" seperti itulah, lahir generasi yang dengan percaya diri mengatakan "selamat datang di kampus bebas tuhan" dan berteriak lancang, "mari kita berdzikir Anjinghu Akbar". Astagfirullah.
Demi menyelamatkan generasi muda Indonesia, #IndonesiaTanpaJIL menyeru:
- Kepada pemerintah, melalui Kemendikbud, untuk menghentikan liberalisasi agama dalam kurikulum pendidikan di Indonesia
- Kepada para pendidik, untuk berani menolak kurikulum pendidikan yang menjurus pada liberalisasi agama yang dipaksakan kepada mereka
- Kepada media massa, untuk mendukung upaya penyelamatan generasi muda Indonesia
- Kepada orangtua, untuk memperhatikan penanaman nilai-nilai agama kepada anak-anaknya, karena keluarga dalah benteng terakhir moralitas generasi
#IndonesiaTanpaJIL adalah gerakan simpatik yang peduli terhadap bahaya pendangkalan aqidah umat Muslim. Gerakan ini didukung oleh akademisi, cendekiawan, kaum profesional, aktivis mahasiswa, pelajar, ibu rumah tangga, dan selebritis.
{islamedia.web.id]

Tidak ada komentar
Posting Komentar