KAMMI: Gunakan Obama untuk Renegoisasi Kontrak Sektor Migas dan Tambang!
![]() |
| Sby dan Obama (ist) |
Kemenangan Barack Obama menjadi
Presiden Amerika Serikat kali kedua, bisa dimanfaatkan pemerintah Indonesia
untuk renegoisasi kontrak sektor migas dan tambang yang dikelola oleh pihak
Amerika Serikat.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI), Muhammad Ilyas, kepada itoday (08/11) menyikapi kemenangan Barack Obama dalam Pilpres Amerika Serikat.
“Ini kesempatan bagi Pemerintah RI untuk renegoisasi kontrak sektor migas dan tambang yang dikelola oleh pihak AS,” tegas Ilyas.
Menurut Ilyas, kemenangan Barack Obama adalah kemenangan demokrasi. Namun demikian, Ilyas berharap, Obama merubah sikapnya terkait hubungan Amerika Serikat dengan dunia Islam. “Kita berharap kebijakan Obama lebih bersahabat dengan dunia Islam, Timur Tengah, dan khususnya Palestina yang dijajah Israel sampai hari ini,” kata Ilyas.
Seperti diketahui, dari 70 aset migas Indonesia, 26 blok telah dikuasai asing, utamanya Amerika Serikat. Perusahaan asal AS, Chevron tercatat memproduksi minyak paling banyak di Indonesia melalui anak usahanya, Chevron Pacific Indonesia. Dua blok yang dimiliki Chevron di Sumatera, Rokan dan Siak, telah menjadi blok dengan produksi minyak terbesar di Indonesia.
ConocoPhillips tercatat menjadi produsen migas terbesar ketiga di Indonesia. Perusahaan asal AS ini menguasai enam blok migas di Indonesia. Yakni, Natuna Sea Block B, Kuma, Laut Arafuru, blok Corridor, Jambi dan Papua.
Sementara ExxonMobil dikabarkan menemukan sumber minyak mentah 1,4 miliar barel dan gas mencapai 8,14 miliar kaki kubik di lapangan Banyu Urip. Exxon menandatangani Kontrak Kerja Sama (KKS) migas dengan pemerintah Indonesia pada 2005.
Tak hanya itu, di sektor pertambangan mineral, kabarnya perusahaan raksasa asal AS, Freeport, juga sudah mengajukan perpanjangan kontrak hingga 2041.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI), Muhammad Ilyas, kepada itoday (08/11) menyikapi kemenangan Barack Obama dalam Pilpres Amerika Serikat.
“Ini kesempatan bagi Pemerintah RI untuk renegoisasi kontrak sektor migas dan tambang yang dikelola oleh pihak AS,” tegas Ilyas.
Menurut Ilyas, kemenangan Barack Obama adalah kemenangan demokrasi. Namun demikian, Ilyas berharap, Obama merubah sikapnya terkait hubungan Amerika Serikat dengan dunia Islam. “Kita berharap kebijakan Obama lebih bersahabat dengan dunia Islam, Timur Tengah, dan khususnya Palestina yang dijajah Israel sampai hari ini,” kata Ilyas.
Seperti diketahui, dari 70 aset migas Indonesia, 26 blok telah dikuasai asing, utamanya Amerika Serikat. Perusahaan asal AS, Chevron tercatat memproduksi minyak paling banyak di Indonesia melalui anak usahanya, Chevron Pacific Indonesia. Dua blok yang dimiliki Chevron di Sumatera, Rokan dan Siak, telah menjadi blok dengan produksi minyak terbesar di Indonesia.
ConocoPhillips tercatat menjadi produsen migas terbesar ketiga di Indonesia. Perusahaan asal AS ini menguasai enam blok migas di Indonesia. Yakni, Natuna Sea Block B, Kuma, Laut Arafuru, blok Corridor, Jambi dan Papua.
Sementara ExxonMobil dikabarkan menemukan sumber minyak mentah 1,4 miliar barel dan gas mencapai 8,14 miliar kaki kubik di lapangan Banyu Urip. Exxon menandatangani Kontrak Kerja Sama (KKS) migas dengan pemerintah Indonesia pada 2005.
Tak hanya itu, di sektor pertambangan mineral, kabarnya perusahaan raksasa asal AS, Freeport, juga sudah mengajukan perpanjangan kontrak hingga 2041.
sumber: itoday.co.id
Kemenangan
Barack Obama menjadi Presiden Amerika Serikat kali kedua, bisa
dimanfaatkan pemerintah Indonesia untuk renegoisasi kontrak sektor migas
dan tambang yang dikelola oleh pihak Amerika Serikat.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI), Muhammad Ilyas, kepada itoday (08/11) menyikapi kemenangan Barack Obama dalam Pilpres Amerika Serikat.
“Ini kesempatan bagi Pemerintah RI untuk renegoisasi kontrak sektor migas dan tambang yang dikelola oleh pihak AS,” tegas Ilyas.
Menurut Ilyas, kemenangan Barack Obama adalah kemenangan demokrasi. Namun demikian, Ilyas berharap, Obama merubah sikapnya terkait hubungan Amerika Serikat dengan dunia Islam. “Kita berharap kebijakan Obama lebih bersahabat dengan dunia Islam, Timur Tengah, dan khususnya Palestina yang dijajah Israel sampai hari ini,” kata Ilyas.
Seperti diketahui, dari 70 aset migas Indonesia, 26 blok telah dikuasai asing, utamanya Amerika Serikat. Perusahaan asal AS, Chevron tercatat memproduksi minyak paling banyak di Indonesia melalui anak usahanya, Chevron Pacific Indonesia. Dua blok yang dimiliki Chevron di Sumatera, Rokan dan Siak, telah menjadi blok dengan produksi minyak terbesar di Indonesia.
ConocoPhillips tercatat menjadi produsen migas terbesar ketiga di Indonesia. Perusahaan asal AS ini menguasai enam blok migas di Indonesia. Yakni, Natuna Sea Block B, Kuma, Laut Arafuru, blok Corridor, Jambi dan Papua.
Sementara ExxonMobil dikabarkan menemukan sumber minyak mentah 1,4 miliar barel dan gas mencapai 8,14 miliar kaki kubik di lapangan Banyu Urip. Exxon menandatangani Kontrak Kerja Sama (KKS) migas dengan pemerintah Indonesia pada 2005.
Tak hanya itu, di sektor pertambangan mineral, kabarnya perusahaan raksasa asal AS, Freeport, juga sudah mengajukan perpanjangan kontrak hingga 2041.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI), Muhammad Ilyas, kepada itoday (08/11) menyikapi kemenangan Barack Obama dalam Pilpres Amerika Serikat.
“Ini kesempatan bagi Pemerintah RI untuk renegoisasi kontrak sektor migas dan tambang yang dikelola oleh pihak AS,” tegas Ilyas.
Menurut Ilyas, kemenangan Barack Obama adalah kemenangan demokrasi. Namun demikian, Ilyas berharap, Obama merubah sikapnya terkait hubungan Amerika Serikat dengan dunia Islam. “Kita berharap kebijakan Obama lebih bersahabat dengan dunia Islam, Timur Tengah, dan khususnya Palestina yang dijajah Israel sampai hari ini,” kata Ilyas.
Seperti diketahui, dari 70 aset migas Indonesia, 26 blok telah dikuasai asing, utamanya Amerika Serikat. Perusahaan asal AS, Chevron tercatat memproduksi minyak paling banyak di Indonesia melalui anak usahanya, Chevron Pacific Indonesia. Dua blok yang dimiliki Chevron di Sumatera, Rokan dan Siak, telah menjadi blok dengan produksi minyak terbesar di Indonesia.
ConocoPhillips tercatat menjadi produsen migas terbesar ketiga di Indonesia. Perusahaan asal AS ini menguasai enam blok migas di Indonesia. Yakni, Natuna Sea Block B, Kuma, Laut Arafuru, blok Corridor, Jambi dan Papua.
Sementara ExxonMobil dikabarkan menemukan sumber minyak mentah 1,4 miliar barel dan gas mencapai 8,14 miliar kaki kubik di lapangan Banyu Urip. Exxon menandatangani Kontrak Kerja Sama (KKS) migas dengan pemerintah Indonesia pada 2005.
Tak hanya itu, di sektor pertambangan mineral, kabarnya perusahaan raksasa asal AS, Freeport, juga sudah mengajukan perpanjangan kontrak hingga 2041.
Read more about Pilpres by www.itoday.co.id
Kemenangan
Barack Obama menjadi Presiden Amerika Serikat kali kedua, bisa
dimanfaatkan pemerintah Indonesia untuk renegoisasi kontrak sektor migas
dan tambang yang dikelola oleh pihak Amerika Serikat.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI), Muhammad Ilyas, kepada itoday (08/11) menyikapi kemenangan Barack Obama dalam Pilpres Amerika Serikat.
“Ini kesempatan bagi Pemerintah RI untuk renegoisasi kontrak sektor migas dan tambang yang dikelola oleh pihak AS,” tegas Ilyas.
Menurut Ilyas, kemenangan Barack Obama adalah kemenangan demokrasi. Namun demikian, Ilyas berharap, Obama merubah sikapnya terkait hubungan Amerika Serikat dengan dunia Islam. “Kita berharap kebijakan Obama lebih bersahabat dengan dunia Islam, Timur Tengah, dan khususnya Palestina yang dijajah Israel sampai hari ini,” kata Ilyas.
Seperti diketahui, dari 70 aset migas Indonesia, 26 blok telah dikuasai asing, utamanya Amerika Serikat. Perusahaan asal AS, Chevron tercatat memproduksi minyak paling banyak di Indonesia melalui anak usahanya, Chevron Pacific Indonesia. Dua blok yang dimiliki Chevron di Sumatera, Rokan dan Siak, telah menjadi blok dengan produksi minyak terbesar di Indonesia.
ConocoPhillips tercatat menjadi produsen migas terbesar ketiga di Indonesia. Perusahaan asal AS ini menguasai enam blok migas di Indonesia. Yakni, Natuna Sea Block B, Kuma, Laut Arafuru, blok Corridor, Jambi dan Papua.
Sementara ExxonMobil dikabarkan menemukan sumber minyak mentah 1,4 miliar barel dan gas mencapai 8,14 miliar kaki kubik di lapangan Banyu Urip. Exxon menandatangani Kontrak Kerja Sama (KKS) migas dengan pemerintah Indonesia pada 2005.
Tak hanya itu, di sektor pertambangan mineral, kabarnya perusahaan raksasa asal AS, Freeport, juga sudah mengajukan perpanjangan kontrak hingga 2041.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI), Muhammad Ilyas, kepada itoday (08/11) menyikapi kemenangan Barack Obama dalam Pilpres Amerika Serikat.
“Ini kesempatan bagi Pemerintah RI untuk renegoisasi kontrak sektor migas dan tambang yang dikelola oleh pihak AS,” tegas Ilyas.
Menurut Ilyas, kemenangan Barack Obama adalah kemenangan demokrasi. Namun demikian, Ilyas berharap, Obama merubah sikapnya terkait hubungan Amerika Serikat dengan dunia Islam. “Kita berharap kebijakan Obama lebih bersahabat dengan dunia Islam, Timur Tengah, dan khususnya Palestina yang dijajah Israel sampai hari ini,” kata Ilyas.
Seperti diketahui, dari 70 aset migas Indonesia, 26 blok telah dikuasai asing, utamanya Amerika Serikat. Perusahaan asal AS, Chevron tercatat memproduksi minyak paling banyak di Indonesia melalui anak usahanya, Chevron Pacific Indonesia. Dua blok yang dimiliki Chevron di Sumatera, Rokan dan Siak, telah menjadi blok dengan produksi minyak terbesar di Indonesia.
ConocoPhillips tercatat menjadi produsen migas terbesar ketiga di Indonesia. Perusahaan asal AS ini menguasai enam blok migas di Indonesia. Yakni, Natuna Sea Block B, Kuma, Laut Arafuru, blok Corridor, Jambi dan Papua.
Sementara ExxonMobil dikabarkan menemukan sumber minyak mentah 1,4 miliar barel dan gas mencapai 8,14 miliar kaki kubik di lapangan Banyu Urip. Exxon menandatangani Kontrak Kerja Sama (KKS) migas dengan pemerintah Indonesia pada 2005.
Tak hanya itu, di sektor pertambangan mineral, kabarnya perusahaan raksasa asal AS, Freeport, juga sudah mengajukan perpanjangan kontrak hingga 2041.
Read more about Pilpres by www.itoday.co.idKemenangan Barack Obama menjadi Presiden Amerika Serikat kali kedua, bisa dimanfaatkan pemerintah Indonesia untuk renegoisasi kontrak sektor migas dan tambang yang dikelola oleh pihak Amerika Serikat.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI), Muhammad Ilyas, kepada itoday (08/11) menyikapi kemenangan Barack Obama dalam Pilpres Amerika Serikat.
“Ini kesempatan bagi Pemerintah RI untuk renegoisasi kontrak sektor migas dan tambang yang dikelola oleh pihak AS,” tegas Ilyas.
Menurut Ilyas, kemenangan Barack Obama adalah kemenangan demokrasi. Namun demikian, Ilyas berharap, Obama merubah sikapnya terkait hubungan Amerika Serikat dengan dunia Islam. “Kita berharap kebijakan Obama lebih bersahabat dengan dunia Islam, Timur Tengah, dan khususnya Palestina yang dijajah Israel sampai hari ini,” kata Ilyas.
Seperti diketahui, dari 70 aset migas Indonesia, 26 blok telah dikuasai asing, utamanya Amerika Serikat. Perusahaan asal AS, Chevron tercatat memproduksi minyak paling banyak di Indonesia melalui anak usahanya, Chevron Pacific Indonesia. Dua blok yang dimiliki Chevron di Sumatera, Rokan dan Siak, telah menjadi blok dengan produksi minyak terbesar di Indonesia.
ConocoPhillips tercatat menjadi produsen migas terbesar ketiga di Indonesia. Perusahaan asal AS ini menguasai enam blok migas di Indonesia. Yakni, Natuna Sea Block B, Kuma, Laut Arafuru, blok Corridor, Jambi dan Papua.
Sementara ExxonMobil dikabarkan menemukan sumber minyak mentah 1,4 miliar barel dan gas mencapai 8,14 miliar kaki kubik di lapangan Banyu Urip. Exxon menandatangani Kontrak Kerja Sama (KKS) migas dengan pemerintah Indonesia pada 2005.
Tak hanya itu, di sektor pertambangan mineral, kabarnya perusahaan raksasa asal AS, Freeport, juga sudah mengajukan perpanjangan kontrak hingga 2041.

Tidak ada komentar
Posting Komentar