Melawan Penyesatan Opini Media
![]() |
| Ilustrasi/kompasiana |
Masih melanjutkan pembahasan tentang media di Indonesia dari jurnal sebelumnya: Film “Di Balik Frekuensi” – Manipulasi Media di Indonesia.
Pembahasan kali ini lebih menitik beratkan pada contoh kasus penyesatan
opini oleh media dan bagaimana publik meresponnya untuk mendapatkan
haknya berupa informasi yang valid.
Bagi umat Muslim sudah jelas petunjuknya, QS. Al-Hujuraat ayat 6 menjadi salah satu referensi penting dalam menghadapi ‘badai informasi’. Ayat tersebut menetapkan bahwa kita jangan menelan bulat-bulat informasi / berita yang masuk begitu saja, melainkan harus diperiksa terlebih dahulu. Tentu saja, prinsip ini didahului dengan asumsi bahwa berita tersebut dianggap cukup penting. Bukan berita ghibah (gosip) yang justru menjebak Anda dalam kebangkrutan di akherat, atau berita ramalan yang hanya Allah Yang Maha Mengetahuinya.
Media massa kita sebagian besar sudah dikendalikan kekuatan-kekuatan politik dan ekonomi. Sebagian lagi media massa ikut-ikutan arus media mainstream. Kemana opini bergerak, media massa tersebut ikut, sehingga sadar tidak sadar sudah masuk ke dalam arus. Sebagian lagi media mengikuti skenario opini karena “kesamaan kepentingan”.
Berikut ini ada 2 contoh dari sekian banyak kasus, ketika media melakukan penyesatan opini, yang kemudian direspon dengan baik oleh publik.
–: KASUS 1 :–
Kemaren (21/2/2013) saya membaca sebuah artikel di blog Berita Protes, yang berjudul Masihkah TEMPO Layak Baca?. Menarik sekali. Topik utama dalam tulisan tersebut adalah tentang upaya alumnus Pesantren Krapyak Yogyakarta dan Jamaah Nahdliyin yang meminta verifikasi redaksi Koran TEMPO mengenai gambar ilustrasi di halaman depan koran tersebut pada tanggal 6 Juni 2012.
Cover majalah pada edisi tersebut menggambarkan bahwa Athiyah Laila Attabik yang tak lain adalah anak dari pemimpin Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, K.H. Attabik Ali mengenakan baju ketat bagaikan ratu di istana sedang duduk santai dengan sepeti koin emas dan dikedua jarinya masih mengapit sebuah koin emas. Dengan judul berita “PT DUTASARI DIDUGA ALIRKAN FEE HAMBALANG 100 M”. Dari gambar ilustrasi tersebut Koran TEMPO seakan akan telah membenarkan dengan mengarahkan opini publik bahwa Athiyah telah melakukan perbuatan krimininal yaitu menerima dan mengatur aliran fee proyek Hambalang. Namun kenyataannya antara ilustrasi dan berita justru tidak ada kaitan.
Kemudian terjadi pembicaraan panjang antara kedua belah pihak. Dan akhir dari klarifikasi adalah pihak Koran TEMPO mengakui kesalahannya dan minta maaf, namun tidak jelas apakah juga dilanjut dengan minta maaf ke ibu Athiyah secara personal. Sedangkan ibu Athiyah hanya bilang dengan santun, “Gusti Allah mboten sare” (Allah tidak tidur). Kronologi lengkapnya bisa Anda baca pada link tersebut.
–: KASUS 2 :–
Dalam program Metro Siang di segmen kemaren (MetroTV, 21/02/2013) membahas tentang hasil survei terkait elektabilitas cagub/cawagub Jawa Barat. Dalam liputan tersebut, MetroTV mengangkat hasil dari 4 lembaga survei, termasuk INSTRAT (Indonesia Strategic Institute) yang dibawakan oleh Prabu Revolusi.
Sayangnya, hasil survei dari INSTRAT yang disampaikan itu tidak sesuai dengan rilis yang mereka berikan sebelumnya. Data yang INSTRAT rilis sebenarnya adalah: Aher-Demiz (37,69%), Dede-Lex (30,2%), Rieke-Teten (15.48%), Yance-Tatang (12.44%), Dekdik-Toyib (4,19%). Sehingga menurut survei, pasangan Aher-Demiz menempati urutan pertama, sedangkan Dede-Lex menempati urutan kedua. Namun, dalam acara Metro Siang kemaren disampaikan bahwa menurut INSTRAT Dede-Lex lah yang berada di urutan 1. Bahkan persentase hasil survei INSTRAT yang ditayangkan di Metro Siang jauh berbeda dari yang sebenarnya. Sulit dipercaya kalau ini ada unsur ketidaksengajaan atau kesalahan proses produksi media tersebut dalam mengolah data.
Atas penyesatan informasi tersebut, kemudian INSTRAT melakukan konfirmasi dan menuntut Metro TV segera melakukan ralat untuk memenuhi hak publik akan informasi yang valid. Sikap INSTRAT terhadap pemberitaan MetroTV disampaikan oleh Direktur Jaringan Ridwansyah Yusuf Ahmad melalui akun twitternya @udayusuf dan @info_instrat.
Berikut isi pesannya yang sudah dirangkum di chirpstory:
Bagi umat Muslim sudah jelas petunjuknya, QS. Al-Hujuraat ayat 6 menjadi salah satu referensi penting dalam menghadapi ‘badai informasi’. Ayat tersebut menetapkan bahwa kita jangan menelan bulat-bulat informasi / berita yang masuk begitu saja, melainkan harus diperiksa terlebih dahulu. Tentu saja, prinsip ini didahului dengan asumsi bahwa berita tersebut dianggap cukup penting. Bukan berita ghibah (gosip) yang justru menjebak Anda dalam kebangkrutan di akherat, atau berita ramalan yang hanya Allah Yang Maha Mengetahuinya.
Media massa kita sebagian besar sudah dikendalikan kekuatan-kekuatan politik dan ekonomi. Sebagian lagi media massa ikut-ikutan arus media mainstream. Kemana opini bergerak, media massa tersebut ikut, sehingga sadar tidak sadar sudah masuk ke dalam arus. Sebagian lagi media mengikuti skenario opini karena “kesamaan kepentingan”.
Berikut ini ada 2 contoh dari sekian banyak kasus, ketika media melakukan penyesatan opini, yang kemudian direspon dengan baik oleh publik.
–: KASUS 1 :–
Kemaren (21/2/2013) saya membaca sebuah artikel di blog Berita Protes, yang berjudul Masihkah TEMPO Layak Baca?. Menarik sekali. Topik utama dalam tulisan tersebut adalah tentang upaya alumnus Pesantren Krapyak Yogyakarta dan Jamaah Nahdliyin yang meminta verifikasi redaksi Koran TEMPO mengenai gambar ilustrasi di halaman depan koran tersebut pada tanggal 6 Juni 2012.
Cover majalah pada edisi tersebut menggambarkan bahwa Athiyah Laila Attabik yang tak lain adalah anak dari pemimpin Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, K.H. Attabik Ali mengenakan baju ketat bagaikan ratu di istana sedang duduk santai dengan sepeti koin emas dan dikedua jarinya masih mengapit sebuah koin emas. Dengan judul berita “PT DUTASARI DIDUGA ALIRKAN FEE HAMBALANG 100 M”. Dari gambar ilustrasi tersebut Koran TEMPO seakan akan telah membenarkan dengan mengarahkan opini publik bahwa Athiyah telah melakukan perbuatan krimininal yaitu menerima dan mengatur aliran fee proyek Hambalang. Namun kenyataannya antara ilustrasi dan berita justru tidak ada kaitan.
Kemudian terjadi pembicaraan panjang antara kedua belah pihak. Dan akhir dari klarifikasi adalah pihak Koran TEMPO mengakui kesalahannya dan minta maaf, namun tidak jelas apakah juga dilanjut dengan minta maaf ke ibu Athiyah secara personal. Sedangkan ibu Athiyah hanya bilang dengan santun, “Gusti Allah mboten sare” (Allah tidak tidur). Kronologi lengkapnya bisa Anda baca pada link tersebut.
–: KASUS 2 :–
Dalam program Metro Siang di segmen kemaren (MetroTV, 21/02/2013) membahas tentang hasil survei terkait elektabilitas cagub/cawagub Jawa Barat. Dalam liputan tersebut, MetroTV mengangkat hasil dari 4 lembaga survei, termasuk INSTRAT (Indonesia Strategic Institute) yang dibawakan oleh Prabu Revolusi.
Sayangnya, hasil survei dari INSTRAT yang disampaikan itu tidak sesuai dengan rilis yang mereka berikan sebelumnya. Data yang INSTRAT rilis sebenarnya adalah: Aher-Demiz (37,69%), Dede-Lex (30,2%), Rieke-Teten (15.48%), Yance-Tatang (12.44%), Dekdik-Toyib (4,19%). Sehingga menurut survei, pasangan Aher-Demiz menempati urutan pertama, sedangkan Dede-Lex menempati urutan kedua. Namun, dalam acara Metro Siang kemaren disampaikan bahwa menurut INSTRAT Dede-Lex lah yang berada di urutan 1. Bahkan persentase hasil survei INSTRAT yang ditayangkan di Metro Siang jauh berbeda dari yang sebenarnya. Sulit dipercaya kalau ini ada unsur ketidaksengajaan atau kesalahan proses produksi media tersebut dalam mengolah data.
Atas penyesatan informasi tersebut, kemudian INSTRAT melakukan konfirmasi dan menuntut Metro TV segera melakukan ralat untuk memenuhi hak publik akan informasi yang valid. Sikap INSTRAT terhadap pemberitaan MetroTV disampaikan oleh Direktur Jaringan Ridwansyah Yusuf Ahmad melalui akun twitternya @udayusuf dan @info_instrat.
Berikut isi pesannya yang sudah dirangkum di chirpstory:
Kami akan me-Retweet dari Direktur Jaringan Instrat: @udayusuf | terkait sikap kami akan berita tidak benar di @metrosiang dan @wideshotmetrotv. Bisa jadi banyak diantara teman-teman yang tidak peduli hasil survey, tapi ketika hasil survey itu diberitakan dengan tidak benar, itu yang jadi masalah.
Itulah yang terjadi pada lembaga kami @info_instrat, data yang telah diolah dan analisa disampaikan dengan tidak benar oleh salah satu televisi. Hasil analisa dan olah data ini adalah sesuatu yang ilmiah, dan bila di sampaikan dengan tidak benar, maka kebohongan publik terjadi. Ini menurut saya lebih parah dari plagiarisme, karena ini bisa jadi tindakan pelanggaran hak intelektual. Untuk itu perlu di perjuangkan.
Concern saya bukan pada siapa yang menang pilkada Jabar. Saya dan rekan-rekan @info_instrat tidak peduli dengan itu. Tapi tentang data yang dipalsukan.
Bisa jadi karena institusi kami, @info_instrat belum sebesar nama nama JSI, LSI, polmark dll, tapi bukan berarti kita bisa diremehkan.
Sebagai seorang yang berada di dalamnya, saya tahu betul usaha dan kerja keras, serta tanggung jawab intelektualitas tim @info_instrat. Kami hanya mencoba menyampaikan hasil studi lapangan mengenai preferensi pemilih dalam pilkada Jawa Barat. Data tanpa intervensi
Sejauh ini kami sudah melakukan konfirmasi via twitter kepada akun @Metro_TV @MetroSiang @wideshotmetrotv @praburevolusi @PutraNababan. Tetapi hingga sekarang belum ada penjelasan apa pun secara langsung kepada kami. Maka malam ini kami akan menetukan sikap selanjutnya. Karena secara hukum jelas kami sebagai pihak yang merasa dirugikan dengan pemberitaan tersebut memiliki hak jawab dan hak koreksi.
Bagi yang ingin mengetahui hasil survey asli tentang elektabilitas Pilkada Jabar 2013 dari INSTRAT bisa diakses di: http://t.co/CE3v60JyVTSetelah penyampaian respon sikap tersebut, kemudian mendapat gelombang dukungan publik melalui twitter yang sama-sama menuntut MetroTV menyampaikan informasi jujur ke masyarakat.
Hasilnya, tadi siang sekitar pukul 11.30, pihak MetroTV menghubungi INSTRAT, meminta maaf atas kesalahan data dan menyatakan akan memberitakan data yang benar. Pemberitaan hasil survei INSTRAT secara benar dilakukan pada jam yang sama seperti pemberitaan yang salah kemarin.
Artinya ada satu pemberitaan di Metro Siang dan satu lagi di Wideshot MetroTV. Inilah tampilan tayangan ralat oleh MetroTV tersebut:

Kemudian sore tadi pk 17.00, direktur jaringan INSTRAT melalui akun twitter-nya menyampaikan bahwa permasalahan dengan Metro TV telah selesai. Detail penyampaian sikap resminya bisa dibaca di chirpstory.
Dalam Kasus 1, kecenderungannya saat ini Koran TEMPO termasuk golongan media massa yang mengikuti skenario “kesamaan kepentingan”. Sedangkan dalam Kasus 2, METRO TV termasuk golongan media yang dikendalikan oleh kekuatan politik pemilik media. Namun demikian, demi menjaga semangat berpikiran positif, saya mengapresiasi mereka yang telah mengakui kesalahannya (terlepas disengaja apa tidak) dan mereka juga meminta maaf.
Berani Melawan Penyesatan Opini
Dari kedua contoh kasus di atas, saya mencoba mengajak kita semua untuk hati-hati mencerna informasi. Jangan telan mentah-mentah semua opini. Kebanyakan media massa kita hanya jadi commercial tools dan pembentuk opini pesanan. Sedikit media yang mengedepankan kejujuran. Inilah dampak dari oligopoli kepemilikan media oleh segelintir orang. Coba bayangkan seandainya tidak ada upaya tuntutan untuk meluruskan informasi, -bahkan mustahil mereka berinisiatif menyadari kesalahannya tanpa dituntut-, maka publik akan selamanya menikmati informasi sesat / keliru yang bahkan menjerumuskan hidupnya (misalnya memilih pemimpin yang salah, atau taqlid pada pemimpin yang zalim).
Kecenderungan media untuk memihak kepentingan politik tertentu masih nyata. Media-media tersebut mestinya menyadari bahwa sekarang adalah era informasi yang serba cepat ditambah dengan kemudahan akses. Apa saja kebusukan-kebusukan yang diciptakan oleh media akan segera / cepat direspon oleh publik yang mendambakan informasi yang jujur. Sehingga media massa mainstream tidak bisa lagi mengontrol dan menentukan opini.
Membaca berita Oligopoli Bisnis Stasiun Televisi, kondisinya makin mengkuatirkan. Bagaimana jadinya bila pengusaha memanfaatkan media untuk berkuasa, karena bila kecenderungan media sudah tidak lagi murni bersifat fair, bisa jadi diktator itu akan muncul dalam beberapa tahun ke depan dengan memanfaatkan media sebagai senjata ampuh dalam memutar-balikkan paradigma rakyat. Melihat situasi seperti ini, pemerintah harus bisa tegas menegakkan undang-undang penyiaran.
Hal yang patut menjadi renungan kembali adalah:
- Untuk siapa media dan jurnalisme itu ada?
- Untuk siapa mereka bekerja? Untuk publik ataukah untuk pemilik media?
Para awak media terutama yang sudah direduksi menjadi pegawai biasa dan
dirampas idealismenya oleh pemilik media demi kepentingan politik dan
ekonominya, mestinya harus sadar bahwa berbohong adalah bagian dari Dosa
Besar. Jelas sungguh mengerikan bila kebohongan itu juga disebarluaskan
oleh pembaca ke lingkungan pembaca lainnya. Dosanya bakal double
kuadrat. Anda mencari nafkah selain untuk diri sendiri tentu juga untuk
keluarga. Tegakah Anda memasukkan benda-benda panas (yang mencabut semua
keberkahan) itu ke dalam perut keluarga Anda? Kalau perbuatan dosa itu
bertentangan dengan hati nurani Anda, maka lawanlah dengan perubahan
yang positif. Atau mencari tempat yang jauh membawa keberkahan. Kecuali
Anda sudah tidak mengenal dosa, silakan berbuat semaunya tanpa rasa
malu. Dan sayapun yakin, Gusti Allah mboten sare.
Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
sumber: islamedia.web.id

Tidak ada komentar
Posting Komentar