Skandal Pajak Keluarga Istana dan Kebusukan Detikcom
SAAT mau tidur, saya iseng baca berita di Detik.com,
Senin, (04/02) sekitar pukul 21:33 WIB. Tulisan itu berjudul “Laporan
dari Jeddah SBY: Saya & Keluarga Laporkan Pajak Sesuai Ketentuan,
Tak Ada Penyimpangan”. Penulisnya Arifin Ashydad.
Saya agak heran dengan berita ini, beritanya panjang betul. Tumben
sekali wartawan Detikcom menulis panjang, biasanya beritanya
pendek-pendek, banyak yang salah tulis pula. Kalaupun menjadi berita
“Terpopuler” biasanya berita khas Detik Surabaya yang paling pinter
bikin berita berbau mesum. Maaf agak nyinyir. Tapi ya begitulah
nyatanya.
Setelah saya selesai membaca berita tersebut, saya iseng ingin membaca
komentar-komentar pembaca yang saya yakin akan nyinyir dan
mengumpat-ngumpat SBY. Tapi, alangkah kagetnya saya ketika saya klik
beritanya, berkali-kali, saya tunggu-tunggu, tidak ada komentar dari
pembaca. Saya curiga form komentar berita itu di non aktifkan.
Saya bangun, tak jadi tidur, bergegas membuka laptop, cek berita
tersebut. Di BB saya form komentar memang tidak nampak, biasanya
beberapa detik setelah ada berita yang bikin heboh langsung banyak
komentar. Nah, saat cek berita di Detikcom via laptop, oh Tuhan, memang
sepertinya di non aktifkan. Via laptop memang komentar muncul “ 1
Comment” tapi itupun kalau diklik tidak nampak. Saya yakin ada yang
tidak beres dengan Detikcom.
Saya cek berita kembali, apa ada tulisan misalnya “Advertorial” atau
tulisan apapun yang menandakan bahwa tulisan atau berita ini sengaja
dipesan oleh orang, instansi atau perusahaan tertentu. Saya amati
baik-baik, takut kurang teliti. Tapi nyatanya tak ada tanda-tanda berita
itu sebagai sebuah “Iklan” dan dalam link beritanya masuk Detiknews.
Bagi saya ini tidak main-main. Ini skandal besar Detikcom yang
main-main dengan penguasa, sengaja menjadi corong penguasa. Bagi saya
inilah contoh nyata kebusukan media. Sejarah mesti mencatat k
SAAT mau tidur, saya iseng baca berita di Detik.com,
Senin, (04/02) sekitar pukul 21:33 WIB. Tulisan itu berjudul “Laporan
dari Jeddah SBY: Saya & Keluarga Laporkan Pajak Sesuai Ketentuan,
Tak Ada Penyimpangan”. Penulisnya Arifin Ashydad.Saya agak heran dengan berita ini, beritanya panjang betul. Tumben sekali wartawan Detikcom menulis panjang, biasanya beritanya pendek-pendek, banyak yang salah tulis pula. Kalaupun menjadi berita “Terpopuler” biasanya berita khas Detik Surabaya yang paling pinter bikin berita berbau mesum. Maaf agak nyinyir. Tapi ya begitulah nyatanya.
Setelah saya selesai membaca berita tersebut, saya iseng ingin membaca komentar-komentar pembaca yang saya yakin akan nyinyir dan mengumpat-ngumpat SBY. Tapi, alangkah kagetnya saya ketika saya klik beritanya, berkali-kali, saya tunggu-tunggu, tidak ada komentar dari pembaca. Saya curiga form komentar berita itu di non aktifkan.
Saya bangun, tak jadi tidur, bergegas membuka laptop, cek berita tersebut. Di BB saya form komentar memang tidak nampak, biasanya beberapa detik setelah ada berita yang bikin heboh langsung banyak komentar. Nah, saat cek berita di Detikcom via laptop, oh Tuhan, memang sepertinya di non aktifkan. Via laptop memang komentar muncul “ 1 Comment” tapi itupun kalau diklik tidak nampak. Saya yakin ada yang tidak beres dengan Detikcom.
Saya cek berita kembali, apa ada tulisan misalnya “Advertorial” atau tulisan apapun yang menandakan bahwa tulisan atau berita ini sengaja dipesan oleh orang, instansi atau perusahaan tertentu. Saya amati baik-baik, takut kurang teliti. Tapi nyatanya tak ada tanda-tanda berita itu sebagai sebuah “Iklan” dan dalam link beritanya masuk Detiknews.
Bagi saya ini tidak main-main. Ini skandal besar Detikcom yang main-main dengan penguasa, sengaja menjadi corong penguasa. Bagi saya inilah contoh nyata kebusukan media. Sejarah mesti mencatat kebusukan media dalam kasus skandal pajak keluarga istana. Sejarah harus mencatatnya (Yons Achmad, pengamat media).
NB: Link Berita http://news.detik.com/read/2013/02/04/212557/2161022/10/sby-saya-keluarga-laporkan-pajak-sesuai-ketentuan-tak-ada-penyimpangan?9922022
ebusukan
media dalam kasus skandal pajak keluarga istana. Sejarah harus
mencatatnya (Yons Achmad, pengamat media).
NB: Link Berita
http://news.detik.com/read/2013/02/04/212557/2161022/10/sby-saya-keluarga-laporkan-pajak-sesuai-ketentuan-tak-ada-penyimpangan?9922022
sumber;berita99.com

Tidak ada komentar
Posting Komentar