DPRD Permalukan Masyarakat Sumut
MEDAN – Sejumlah pengamat politik menilai pembatalan
pelantikan Gubernur Sumut (Gubsu) definitif justru telah mempermalukan
masyarakat Sumut. Ketua DPRD Sumut Saleh Bangun diminta untuk mengungkap
secara terbuka pembatalan sepihaknya.
“Ini penzaliman namanya. Masyarakat Sumut sesungguhnya yang dirugikan
dan merasa dibodoh-bodohi oleh DPRD Sumut,” kata pengamat politik
Universitas Sumatera Utara (USU) Ahmad Taufan Damanik kepada wartawan di
Medan, Jumat (1/3).
Skenario pembodohan ini terlihat jelas ketika Ketua DPRD Sumut
menandatangani sendiri undangan pelantikan Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho
sebagai Gubsu definitif yang disebar pada 27/2. Saat undangan telah
disebar dan sebagian besar sudah datang ke Jakarta, tiba-tiba secara
sepihak tanpa alasan yang jelas dan tidak ada komunikasi dengan Pimpinan
DPRD Sumut lainnya Saleh Bangun justru mengirimkan surat pembatalan ke
Mendagri beberapa jam sebelum pelantikan dilangsungkan.
Padahal sebelumnya Pimpinan DPRD Sumut sudah gembar-gembor di
sejumlah media telah memutuskan untuk menggelar pelantikan pada di
Jakarta pada 28/2. Keputusan tersebut juga dinyatakan telah disetujui
dalam Rapat Banmus DPRD Sumut. Dan disebut-sebut bahwa keinginan
dilakukan pelantikan di Jakarta atas saran Mendagri mengingat Sumut
sedang melaksanakan tahapan kampanye Pilgubsu.
Padahal sejak awal Plt Gubsu sudah sangat legowo untuk tidak dilantik
selama masa kampanye dan tahapan Pilgubsu berlangsung. Sebab secara
politis sudah tidak adalagi artinya dilantik atau tidak saat masa waktu
yang tinggal beberapa bulan lagi.
“Kita jadi heran kenapa seolah-olah DPRD yang ngotot minta
dipercepat, dan Mendagri yang minta di Jakarta lau tiba-tiba dibatalkan
sepihak,” terangnya.
Wajar menurutnya yang timbul justru kemarahan beberapa anggota dewan
lain yang juga merasa dibodohi dengan skenario tersebut. Dan yang marah
umumnya anggota dewan yang selama sangat kritis terhadap Gatot.
Untuk menghilangkan prasangka negatif terhadap DPRD Sumut, Saleh
Bangun menurutnya harus memberikan klarifikasi terbuka alasan pembatalan
sepihak tersebut. Karena banyak yang curiga ada tekanan politik di luar
yang menginginkan hal itu terjadi.
“Saleh Bangun harus jelaskan siapa yang tekan dia. Karena itu sudah membuat malu masyarakat Sumut,” ujar Taufan.
Hal yang sama juga dikatakan pengamat politik lainnya Dadang
Darmawan. Sangat tidak masuk akal menurutnya agenda pelantikan yang
sesungguhnya sudah sangat baku dan biasa dilakukan bisa dimanipulasi
sedemikian rupa hingga terjadi pembatalan sepihak sesaat sebelum jadwal
pelantikan digelar.
“Pelantikan itu sesuatu yang biasa dan sudah baku mekanismenya. DPRD
dan Mendagri tinggal ikuti prosedur dan tidak perlu lagi ada pembatalan
jika memang semuanya telah berproses,” kata Dadang.
Karena itu sangat disayangkan jika selembar surat Ketua DPRD Sumut
bisa membatalkan keputusan presiden untuk melantik gubernur yang sudah
definitif. Anehnya lagi Mendagri patuh pada isi surat yang disebut-sebut
tidak jelas alasan pembatalannya.
Jika memang masih ada penolakan dari DPRD terkait tanggal pelantikan
harusnya tidak perlu didorong-dorong dan dipaksakan untuk segera
dilantik. Sebab yang bersangkutan dalam hal ini Gatot Pujo Nugroho tidak
terlalu bernafsu untuk segera dilantik.
Semua ini menurutnya tidak akan terjadi jika Mendagri memaksakan
pelantikan dilakukan di jakarta dan DPRD sibuk mendorong-dorong agar
dilakukan pelantikan saat masa kampanye padahal belum semua anggota
dewan menyetujuinya. Yang menjadi korban justru masyarakat Sumut yang
merasa dibodoh-bodohin dengan skenario murahan yang dimainkan DPRD
Sumut.
Pengamat politik lainnya Warjio menilai kejadian tersebut telah
mencoreng kredibilitas kelembagaan DPRD Sumut. Karena untuk menggelar
pelantikan saja dianggap tidak mampu mensingkronkannya.
“DPRD ini ibarat memukul air di dulang terpercik muka sendiri. Mereka
yang bermain mereka sendiri yang tercoreng namanya di mata masyarakat,”
ujar dosen Ilmu Politik FISIP USU itu.

Tidak ada komentar
Posting Komentar