Jokowi Effect Sudah Tak Mampu Menolong Cagub PDIP
![]() |
|
Effendi MS Simbolon-Jumiran Abdi - IST
|
Jakarta - Pasangan Cagub yang diusung oleh
PDIP Effendi MS Simbolon-Jumiran Abdi, tak mampu memenangkan Pemilukada
Sumatera Utara. Berdasarkan hasil penghitungan cepat, pasangan itu kalah
dari pasangan Cagub yang diusung PKS, Gatot Pujo Nugroho-Tengku Erry
Nuradi.
Meski telah menghadirkan Jokowi sebagai juru kampanye, namun pasangan Cagub PDIP kembali gagal, setelah sebelumnya pasangan Cagub Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki juga gagal di Pemilukada Jawa Barat.
Menururt pengamat politik, Karel Susetyo kalau Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebagai brand politik itu memang kuat yakni baju kotak-kotak dan ide perubahan yang melekat pada dirinya. Akan tetapi, brand itu tidak bisa di copy paste begitu saja.
"Brand bisa hidup karena ruh dan semangat Jokowi. Jadi, ini faktanya gagal Jokowi efek sebelumnya pasangan Rieke-Teten juga kalah di Pilkada Jabar," kata Karel kepada INILAH.COM, Kamis (7/3/2013).
Karel mengatakan, meski baju kotak-kotak masih dijadikan ikon oleh Cagub-cagub yang diusung PDIP, baik dalam Pemilukada Jawa Barat, dam Sumatera Utara, namun hal itu tidak bisa mengulang kesuksesan dalam Pemilukada DKI Jakarta.
"Tapi itu tidak ada ruhnya, baju mah siapa aja juga bisa pakai tapi kan ruhnya berbeda," sindirnya.
Karel menyinggung, masyarakat pun kemungkinan sudah mengetahui bagaimana Effendi Simbolon itu terkenal orang yang berpenampilan elit.
Meski telah menghadirkan Jokowi sebagai juru kampanye, namun pasangan Cagub PDIP kembali gagal, setelah sebelumnya pasangan Cagub Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki juga gagal di Pemilukada Jawa Barat.
Menururt pengamat politik, Karel Susetyo kalau Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebagai brand politik itu memang kuat yakni baju kotak-kotak dan ide perubahan yang melekat pada dirinya. Akan tetapi, brand itu tidak bisa di copy paste begitu saja.
"Brand bisa hidup karena ruh dan semangat Jokowi. Jadi, ini faktanya gagal Jokowi efek sebelumnya pasangan Rieke-Teten juga kalah di Pilkada Jabar," kata Karel kepada INILAH.COM, Kamis (7/3/2013).
Karel mengatakan, meski baju kotak-kotak masih dijadikan ikon oleh Cagub-cagub yang diusung PDIP, baik dalam Pemilukada Jawa Barat, dam Sumatera Utara, namun hal itu tidak bisa mengulang kesuksesan dalam Pemilukada DKI Jakarta.
"Tapi itu tidak ada ruhnya, baju mah siapa aja juga bisa pakai tapi kan ruhnya berbeda," sindirnya.
Karel menyinggung, masyarakat pun kemungkinan sudah mengetahui bagaimana Effendi Simbolon itu terkenal orang yang berpenampilan elit.
"Nah
tiba-tiba saja mau tampil merakyat ya, ga bisa itu aneh lah. Karena
image-image yang terbangun mau perubahan ga bisa masuk, jadi utamanya
itu brand dan ruh yang dibangun," jelas peneliti dari POINT Indonesia.
Memang, sebagai kader ya wajar saja kalau Jokowi menjalankan tugas partai tapi pengaruhnya juga tidak terlalu banyak.
Memang, sebagai kader ya wajar saja kalau Jokowi menjalankan tugas partai tapi pengaruhnya juga tidak terlalu banyak.
"Udahlah
Jokowi efek itu tidak terbukti pasca Pemilukada di Jakarta, yang menang
setelah Pemilukada Jakarta itu hanya di Kalimantan Barat (Kalbar), tapi
itu juga bukan karena Jokowi efek. Kandidat tidak pakai kotak-kotak
namun berhubung incumbent dan cara kerjanya sama dengan Jokowi, hanya
saja dia tidak diekspose saja. Kalau Jokowi kan over ekspose karena di
Jakarta," tegasnya lagi.[inilah]

Tidak ada komentar
Posting Komentar