Anda, Kuburan Aib Saudaramu
![]() |
| Ilustrasi |
“Seburuk-buruk orang adalah yang selalu menyibukkan dirinya dengan
menyebut-nyebut keburukan orang lain,” demikian pesan tabi‘in terkemuka,
Ibnu Sirin, saat mendiagnosa penyakit hati yang banyak menjangkiti
sebagian manusia, di antaranya para dai. Yakni sibuk mencari-cari aib
orang lain dan lupa terhadap aib sendiri. Sebagai akibat dari lemahnya
tarbiyah. Maka puncak perhatian dan pekerjaannya adalah mencari-cari
kesalahan orang, membongkar, dan menyerangnya. Dia lupa bahwa setiap
orang memiliki aib dan kesalahan. Tidak terkecuali dirinya sendiri.
Ini
termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya yang menimpa seorang
mukmin dan dai, sampai-sampai ia melihat dirinya begitu sempurna
sementara orang dan dai lain diliputi banyak aib dan kekurangan. Ia lupa
kalau Allah menghendaki kebaikan seseorang, dia akan disibukkan dengan
aib dirinya sendiri untuk segera diperbaiki. Lalu ia sibuk dengan
dirinya sendiri, membersihkannya, mentarbiyahnya, menjauhkannya dari
segala sifat buruk.
يُبْصر أَحَدُكُمُ الْقَذَاةَ فِي عَيْنِ أَخِيْهِ وَيَنْسَى الْجَذَعَ فِي عَيْنِهِ
“Salah seorang melihat kotoran di matanya namun melupakan kotoran di matanya sendiri.”
Peribahasa Indonesia mengatakan, “Kuman di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak.”
Generasi
terbaik, para sahabat dan tabi’in senantiasa terhubung hati mereka
dengan Allah. Mereka sibuk dengan jiwa mereka sendiri, karena ia adalah
musuh utama mereka. Seluruh perhatian mereka kerahkan untuk menghadapi
jiwa yang ada di dalam diri mereka sendiri. Mereka sadar betul bahwa
mendidik jiwa mereka sendiri adalah kewajiban utama dan sarana efektif
untuk menjaga istiqamah dalam ketaatan. Mereka juga paham hakikat dan
tabiat jiwa itu. Seperti kata Al-Ajiri,
إِذَا
أَطْمَعْتَهَا طَمَعَتْ، وَإِذَا آيَسْتَهَا أَيْسَتْ، وَإِذَا
أَقْنَعْتَهَا قَنَعَتْ، وَإِذَا أَرْخَيْتَ لَهَا طَغَتْ، وَإِذَا
فَوَّضْتَ لَهَا أَسَاءَتْ، وَإِذَا حَمَّلْتَهَا عَلَى أَمْرِ اللهِ
صَلُحَتْ
“Jika kau membuatnya tamak, dia menjadi tamak. Jika kau
buat putus asa, dia menjadi putus asa. Dan jika kau membuatnya menerima,
dia akan menerima, jika kau abaikan, ia melampaui batas, jika kau
serahkan urusan kepadanya, ia jahat, dan jika kau bawa kepada perintah
Allah, dia menjadi baik.”
Seorang muslim biasa mempunyai kewajiban
untuk mendidik jiwanya sedemikian rupa terhadap jiwanya dan tidak
menelisik aib dan keburukan orang lain, Karen hal itu akan mengganggu
ruhiyahnya dan istiqamahnya di jalan Allah, apatah lagi seorang dai dan
murabbi, yang waktunya dilalui dalam belantara dakwah. Menyebarkan
dakwah dan mengajak orang kepada petunjuk Allah. Menemui manusia
mengulurkan tangan untuk membimbing mereka agar lebih dekat mengenali
Rabb mereka. Tentu mereka lebih membutuhkan kemampuan mendidik jiwa
mereka sendiri hingga bisa mendidik orang lain.
Ali ra. berkata,
مَنْ
نَصَبَ نَفْسَهُ لِلنَّاسِ إمَاماً فَلْيَبْدَأ بِتَهْذِيْبِ نَفْسِهِ
قَبْلَ تَهْذِيْبِ غَيْرِهِ، وَلْيَكُنْ تَهْذِيْبُهُ بِسِيْرَتِهِ قَبْلَ
تَهْذِيْبِهِ بِلِسَانِهِ، وَمُعَلِّمُ نَفْسِهِ وَمُهَذِّبُهَا أَحَقُّ
بِالإِجْلاَلِ مِنْ مُعَلِّمِ النَّاسِ وَمُهَذِّبُهُمْ
“Siapa
menobatkan dirinya sebagi imam (pemimpin) bagi orang lain hendaknya ia
memulai mendidik dirinya sebelum mendidik orang lain. Dan hendaknya ia
mendidiknya dengan perbuatannya sebelum mendidik dengan lisannya.
Seorang yang mengajari dirinya serta mendidiknya lebih patut dihormati
ketimbang orang yang mengajarkan dan mendidik orang lain.”
Atsar ini bisa disimplikasikan dengan jargon tarbiyah,
اَصْلِحْ نَفْسَكَ وَادْعُ غَيْرَكَ
“Perbaiki dirimu dan berdakwahlah kepada orang lain.”
Betapa
banyak orang yang menghabiskan waktu dan perhatiannya bukannya untuk
mendidik jiwanya, namun untuk hal-hal mubah, bahkan syubuhat, atau
na’uzu billah hal-hal haram. Seperti menyibukkan diri mengoreksi
kesalahan saudaranya. Yang hal ini merupakan bunuh diri dalam kamus
generasi terbaik. Allah berfirman,
“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian.” (An-Nisa’: 29)
Al-Fudhail
bin ‘Iyyadh mengomentari ayat ini, “Janganlah kalian lalai terhadap
diri kalian, sebab barangsiapa lalai terhadap dirinya berarti ia telah
membunuh dirinya.”
Alangkah indahnya jika para dai memahami nilai-nilai tarbawi ini.
Imam
Abu Hatim bin Hibban berkata, “Adalah wajib bagi orang berakal untuk
senantiasa menjaga keselamatan dirinya dengan cara tidak mencari-cari
kesalahan orang lain dan sibuk memperbaiki kesalahan dirinya sendiri.
Sebab orang yang sibuk dengan kesalahannya ketimbang kesalahan orang
lain badannya santai dan hatinya tidak capek. Setiap kali ia melihat
kesalahannya sendiri maka menjadi ringanlah kesalahan yang dilihatnya
pada saudaranya. Sedangkan orang yang sibuk dengan kesalahan orang lain
ketimbang kesalahan dirinya sendiri buta hatinya dan lelah badannya lalu
sulit baginya untuk meninggalkan kesalahannya dirinya.”
Saudaramu adalah cerminmu
Sebagaimana
jiwamu memerlukan perhatian karena kekurangannya, aibnya,
kecenderungannya menjauh dari petunjuk, dan penentangannya kepada amal
ketaatan. Jiwa orang lain pun demikian halnya. Semua berada dalam proses
pergulatan dengan jiwanya masing. Kalah dan menang adalah konsekuensi
dari pergulatan itu. Adakalanya fitrah mendominasi dan adakalanya nafsu
yang mengendalikan. Di saat itu, maka sifat-sifat buruk bersemi dengan
suburnya bagai jamur di musim hujan.
Adakah yang selamat dan
bersih dari kekurangan dan kesalahan? Hanya Rasulullah saw yang dijaga
(ma’shum) dari segala kesalahan. Maka jika kau melihat ada kesalahan
pada diri saudaramu, sesungguhnya kesalahan itu juga ada pada dirimu.
Jika ada aib, cacat, kemalasan, bahkan kemaksiatan, sesungguhnya
–betapapun- kadarnya, itu semua ada pada dirimu. Dari Anas bin Malik
Rasulullah saw.
اَلْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ
“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin (yang lain).” (Bazzar dan Thabrani)
Jika
Anda bercermin, lalu di balik cermin itu Anda melihat ada kotoran atau
apapun yang Anda tidak suka karena akan mengganggu penampilan Anda, maka
dengan berbagai upaya Anda lakukan untuk menghilangkannya atau
menutupinya, membersihkannya atau menghiasinya agar nampak indah Anda
pandang sendiri dan indah pula dipandang orang lain. Dan Anda akan malu
tersipu jika ternyata ada kotoran dan aib yang belum dibersihkan lalu
dilihat orang lain.
Dan Anda adalah cermin bagi saudaramu.
Saudaramu adalah cermin bagi Anda. Kotoran dan aib yang Anda lihat pada
diri saudaramu itu sesungguhnya merupakan pantulan dari kotoran dan aib
yang ada pada dirimu. Seperti halnya Anda tidak suka apabila aibmu
dilihat orang, seperti itu pula saudaramu. Maka menyembunyikan aib
saudara –kalau tidak mampu membersihkannya- adalah keniscayaan dalam
pergaulan ukhuwah. Karena pada konteks ini, taka da bedanya antara Anda
dan saudara yang lain. Seperti tak ada bedanya antara Anda yang sedang
Anda lihat di balik cermin itu, dan setiap mukmin mencintai untuk
saudaranya seperti dia mencintai untuk dirinya sendiri.
Keutamaan menutupi aib saudara
Di
antara kemurahan Allah adalah Dia senang kalau tidak ada hamba-Nya yang
melakukan dosa dan kesalahan. Kalau seorang hamba tidak kuasa kecuali
melakukannya, Allah senang kalau hamba itu menutupi aurat dan aibnya
sendiri lalu bertaubat dan memohon ampunan kepada-Nya.
Allah bersifat Sattir.
وعَنْ
عَطَاءٍ عَنْ يَعْلَى أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا يَغْتَسِلُ بِالْبَرَازِ فَصَعِدَ الْمِنْبَرَ
فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ فَإِذَا
اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ
Dari Atha’ dari Ya’la bahwa
Rasulullah saw. melihat seseorang mandi di tempat terbuka. Lalu beliau
naik mimbar kemudian memuji Allah dan bersabda, “Sesungguhnya Allah
Azza wa Jalla itu Mahasantun, Maha Pemalu, dan Maha Menutupi cinta
kepada rasa malu dan menutupi. Maka jika salah seorang kalian mandi
hendaklah bersembunyi.” (Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, dan Baihaqi).
Allah Menutupi Aibnya
Menutupi
aib dan aurat orang beriman adalah kewajiban. Barangsiapa menutupi
aurat dan aib saudaranya dengan ikhlas dan cinta karena Allah, Allah
akan menutupi aib dan kesalahannya di dunia dan akhirat. Itu adalah
bagian pertama dari ampunan dan maaf Allah kepada hamba. Sabda
Rasulullah saw.,
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَةُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
“Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat.” (Abdurrazzaq dan Ahmad dari hadits Abu Hurairah).
Menutup
aurat dan aib artinya semua aib baik yang bersifat fisik maupun
non-fisik. Misalnya seseorang memiliki keburukan dan cacat di badannya
maka tidak ditunjukkan dan diceritakan kepada orang lain. Atau seseorang
melakukan kesalahan lalu disimpan kesalahan itu dan tidak dibeberkan
kepada orang lain. Bahkan ketika seseorang sudah meninggal sekalipun,
perlu disembunyikan aurat dan cacatnya. Seperti sabda Rasulullah saw.,
مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ أرْبَعِينَ مَرَّةً
“Barang siapa memandikan mayit lalu ia sembunyikan (aibnya) Allah akan mengampuninya selama empat puluh kali.” (Baihaqi dan Thabrani)
Akibat membongkar dan menyebarkan air orang-orang beriman.
Sebaliknya,
membongkar dan memamerkan aib orang lain adalah dosa. Khususnya jika
hal itu dilakukan orang karena kealpaannya dan bukan termasuk orang yang
suka memamerkan kemaksiatan. Terlebih lagi jika ia dikenal sebagai
orang yang taat beribadah dan baik agamanya juga tidak dikenal sebagai
ahli maksiat. Maka mencacinya adalah mencaci agama. Membeberkan
kesalahannya adalah menodai agama. Lalu Allah akan menghukum orang yang
suka memamerkan bahkan mencari-cari kesalahan orang lain. Baik di dunia
maupun akhirat. Di dunia, kesalahan dan aibnya akan dipertujukkan Allah
kepada manusia. Seorang salafus-shalih berkata,
“Aku mendapati
suatu kaum yang tidak punya aib sama sekali. Lalu mereka menyebut-nyebut
aib orang lain maka orang lain itupun menyebut-nyebut aib dan kesalahan
mereka. Aku juga mendapati kaum lain yang memiliki banyak aib dan
kesalahan, lalu mereka suka menutupi aib orang-orang lain maka aib
mereka pun dilupakan orang.”
Sebab tidak ada orang di dunia ini
yang tanpa aib dan kesalahan. Saat seseorang mencari-cari bahkan
membongkar kesalahan orang lain, orang akan mencari dan membongkar
kesalahannya. Dan tentu kondisi ini menjadi preseden buruk bagi sebuah
jamaah atau masyarakat. Saat masing-masing anggotanya berusaha
membongkar kesalahan dan aib orang lain, maka masing-masing akan
membongkar aib dan kesalahan yang lain. Maka tidak ada lagi rahasia.
Masing-masing dari anggota saling menghujat dan menyalahkan.
Sebagai
konsekuensinya berbagai perilaku dan sikap negative pun bermunculan
dalam jamaah dan masyarakat; suuzhan, tajassus, ghibah, najwa, bahkan
adu domba sampai kepada fitnah demi memuaskan hati dengan melihat
lawannya tersakiti. Maka rusaklah sendi-sendi jamaah dan masyarakat
karena perilaku negatif ini. Seiring dengan itu hilang pula kepercayaan
satu sama lain. Satu sama lain saling mencurigai dan saling menzhalimi.
Kondisi
semacam ini yang diwanti-wanti oleh Allah dan pelakunya diancam dengan
azab yang pedih di dunia dan akhirat. Allah berfirman,
“Sesungguhnya
orang-orang yang suka tersebar keburukan di antara orang-orang yang
beriman bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Allah
Mengetahui sedang kalian tidak mengetahui.” (An-Nur: 19)
Seharusnya
seseorang menutupi aurat dan aib saudaranya sebagaimana ia suka jika
aib dan auratnya ditutupi. Orang yang suka membuka dan membicarakan
aurat serta aib orang lain, tidak perlu didengar apatah lagi ditanggapi.
Seorang
wanita datang menemui Ummul Mukminin, Aisyah ra., bahwa seorang
laki-laki mencoba membuka auratnya saat wanita itu umrah. Aisyah pun
memboikotnya dan berpaling darinya seraya berkata, “Hai wanita-wanita
beriman, jika salah satu di antara kalian melakukan dosa, hendaknya
tidak menyampaikannya kepada orang lain. Hendaknya meminta ampunan
kepada Allah dan bertaubat kepadanya. Karena manusia itu hanya bisa
melecehkan dan tidak merubah. Sedangkan Allah bisa merubah dan tidak
melecehkan.”
Jadi, jadikan dirimu sebagai kuburan seluruh aib
saudaramu. Kubur dalam-dalam semua kesalahannya agar tidak pernah muncul
lagi. Ya, sedalam-dalamnya, selama-lamanya.

Tidak ada komentar
Posting Komentar