Di Gaza, Penghafal al-Quran Merupakan Status Bergengsi
Setiap orang bisa menjadi penghafal al-Quran, namun tidak semua orang
bisa menjaga hafalannya. Karena itu salah satu cara menjaga agar
hafalan al-Quran adalah terus- menerus menjaga ketakwaan, selain
frekuensi pengulangan (muroja’ah).
Demikian salah satu tips menjaga hafalan al_Quran dari Syeikh
Muhammad Khattab, salah satu imam asal Gaza Palestina diundang dalam
rangka program Silaturrahim Ramadhan Imam-Imam Suriah dan Palestina ke
Indonesia (SIRAMAN MANIS) bekerjasama dengan Sahabat al-Aqsa di Majelis
Taklim XL usai shalat Subuh, hari Sabtu, (20/07/2013).
“Hapalan Quran kita juga lebih melekat jika digunakan pada shalat
malam. Bisa jadi shalat Qiyamul Lail kita hanya dua rakaat tapi
bacaannya satu juz,” tutur Imam Masjid as-Salam, Rafah, Gaza Selatan
itu.
Syeikh Khattab juga menjelaskan bagaimana kebiasaan para penghafal
Quran di Gaza di mana biasa membaca ulang 20 sampai 40 kali setiap
lembarnya.
Pria kelahiran Makkah, Arab Saudi itu menceritakan bagaimana dirinya
semenjak kecil sudah terlibat dengan hafalan al-Quran. Sejak usia 16
tahun, ia telah mengikuti dauroh yang khusus menargetkan hafal al-Quran
dalam tempo dua bulan.
“Saya mulai serius menghapal al-Quran usia 16 tahun untuk mengejar
khatam 30 Juz dalam dua bulan. Tapi sejak kecil saya sudah terbiasa
menghapal lima sampai tujuh juz,”ungkapnya merendah.
Menurutnya, dauroh atau semacam pelatihan intensif untuk para
penghapal Quran, menjadi tujuan para penghapal Quran di Gaza yang
dilakukan sangat ketat.
“Ketat sekali penyaringannya. Dari 5000 orang pendaftar, hanya 100 orang saja yang diterima,”ucapnya.
Para pendaftar berasal dari berbagai cabang lembaga penghapal Quran yang tersebar di berbagai daerah di Palestina.
Lembaga dauroh yang terpusat di Gaza itu menurutnya betul-betul
sangat istimewa. Selain memiliki program target hafalan dalam waktu
singkat, orang-orang yang tersaring sudah dipastikan tidak bermasalah
dengan pengucapan dan tentunya sudah terbiasa menghafal.
Setahun sekali, dauroh yang berada di Gaza membuka pendaftaran murid
baru. Selain ketat penyaringannya, masa karantina akan dianggap sebagai
proses penggojlokan yang cukup berat. Setiap waktu digunakan untuk
menghafal. Dimulai setelah Sholat Subuh sampai menjelang sholat Dzuhur,
peserta menggunakan waktunya untuk tidak beranjak dari lembaran
al-Quran. Hal yang sama dilakukan seusai sholat Dzuhur. Terus
berlangsung seperti itu sehari-harinya. Waktu resmi menghafal hanya
berhenti pada saat sholat, makan dan mandi saja. Walaupun sesungguhnya
bagi seorang yang sudah memasukkan ayat-ayat Allah kedalam dadanya, Ia
akan terus menghapal baik ketika berdiri, duduk dan berbaring.
Jika ada yang sedih ketika harus bersusah payah menghafal, Syeikh
Muhammad memakluminya. “Seminggu pertama mengikuti dauroh itu, saya juga
kesulitan menghafal. Tapi pada minggu berikutnya, mulai bakda Subuh
sampai Dzuhur, bisa hafal13 halaman,”ucap Anggota Dewan Qari Kreatif
Masjid ‘Umari al-Kabir, Gaza itu. Tiga belas halaman sama dengan enam
lembar dan itu berarti ½ juz mampu diikat dalam ingatannya hanya dalam
tempo sekitar 7 jam. Belum lagi pada belasan jam berikutnya, terus
menghafal. Bisa dibayangkan berapa banyak lembar yang mampu
dikatamkannya. Pantas saja jika dalam waktu singkat, pria yang memiliki
lima saudara lelaki bergelar al-Hafidz itu, mampu menyelesaikan 30 Juz
al-Quran. “Kuncinya, tetap semangat dan jangan menyerah. Luruskan niat
kita dan ingatlah fadhilahnya,”Syeikh terus memompa semangat para
jemaah..
Tidak seperti di Indonesia, yang menarik di Gaza, seorang penghapal al-Quran merupakan status sangat bergengsi.
“Di sana, kami, para penghapal Quran mendapatkan ijazah resmi,” papar Sarjana Ilmu Syariah Universitas Islam Gaza itu.
Sejak dinyatakan secara resmi menyandang status al-Hafidz, hingga
kini Syeikh Muhammad telah meluluskan 250 orang penghapal Quran.
Saat ini terdapat 40 orang Penghafal Quran di Gaza yang menunggu
kepulangannya dari Indonesia untuk memberi ijazah resmi al-Hafidz. Di
antara murid-muridnya itu, ada saja mereka yang menghapal setiap harinya
½ halaman.
“Jika mereka konsisten seperti itu setiap harinya, maka selama empat
tahun bisa khatam,”ungkap murid Syeikh Muhammad Abu Sattar itu.
Ia juga memiliki enam orang murid asal Indonesia yang memiliki hafalan sangat kuat dan sudah menyandang gelar al-Hafidz.*HIDAYATULLAH

Tidak ada komentar
Posting Komentar