Komnas Perempuan Akui Dapat Dana Luar Negeri
Komisi Nasional Hak Asasi Perempuan
(Komnas Perempuan) mengakui bahwa
mereka mendapat subsidi dari luar negeri. Hal ini disampaikan ketua
Komnas Perempuan Yuniyanti chuzaifah dalam rapat Komisi III DPR RI,
Selasa (24/08/2013).
Yuni menjelaskan mereka terpaksa mencari dana ke luar negeri karena minimnya anggaran APBN dari negara untuk Komnas Perempuan.
"Tahun lalu kita diberi 10 Milliar, tahun ini ada rencana akan dipotong menjadi 8 Milliar," jelasnya didepan komisi III DPR RI.
Yuni mengakui ada empat lembaga luar negeri yang menyuntik dana ke
Komnas Perempuan. Lembaga pertama berada dibawah naungan PBB, lalu ada
juga dari pemerintah Norwegia, Belanda dan Australia.
Yuni mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah dalam membiayai
aktivitas Komnas Perempuan. Padahal permasalahan kekerasan pada wanita
menjadi sangat penting untuk jadi tanggung jawab negara.
"Di Komnas Perempuan ada 100 karyawan yang terdiri dari 15 komisioner
dan 85 badan pekerja, selama 15 tahun kami hanya naik gaji dua kali dan
tidak mendapatkan jaminan kesehatan dan hak-hak dasar lainnya," jelas
Yuni lagi.
Kinerja Komnas Perempuan
Sementara Subiakto anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Demokrat
menilai kerja Komnas Perempuan belum optimal. Ia menilai Komnas
Perempuan selama ini hanya bekerja pada ruang investigasi empiris.
Harusnya bisa lebih masuk ke ruang implementatif.
"harus bisa mengawal kasus-kasus kekerasan perempuan hingga tuntasnya proses hukum," jelasnya dalam sidang komisi tersebut.
Menambahkan Subiakto, Nasir Jamil dari Fraksi Partai Keadilan
Sejahtera (F-PKS) mengkhawatirkan independensi Komnas Perempuan karena
menerima uang dari luar negeri. Menurut Jamil ini harus jadi perhatian
serius dari pemerintah.
"Kita khawatir ada kepentingan asing yang menunggangi Komnas Perempuan dibalik bantuan luar negeri tersebut," jelasnya.
"Tidak mungkin negara luar memberikan bantuan tanpa membawa kepentingan," tambahnya lagi.
Untuk itu Nasir meminta pemerintah serius memikirkan anggaran APBN
untuk Komnas Perempuan. Diharapkan keputusan itu tidak membuat lembaga
yang membela hak-hak perempuan itu tak perlu lagi mencari uang ke luar
negeri.
"Kalau pemerintah tak mau serius membiayai lembaga ini ya dibubarkan saja," tegas Nasir Jamil lagi./ hidayatullah

Tidak ada komentar
Posting Komentar