Wow..inikah Restorasi itu...?
"Restorasi Cabe-Cabean"
Seorang
petinggi partai datang ke negeri Cina. Bos televisi yang sering
menyuarakan sekulerisasi ini terantuk sebuah masalah. Fotonya yang
sedang merangkul mesra seorang wanita tersebar ke dunia maya. Senyatanya
ia datang dalam rangka menerima penghargaan. Entah penghargaan apa yang
mau diterima.
Mantan wartawan yang suka pindah partai menjadi
jubirnya sekarang. Memberi klarifikasi untuk sang bos. Katanya
perempuan itu anggota rombongan. Tak ada yang salah dari foto itu,
tambahnya. Ingatan kita lalu terjebak pada seorang petinggi partai
lainnya. Ia berpiknik bersama artis ke Maladewa dan berfoto mesra pula.
Tidak berduaan saja memang. Perlakuan yang mereka terima dari media
sekuler berbeda sekali. Tapi saya tidak akan membahas orang terakhir
ini.
Namun, mari kita telaah bersama pernyataan jubir itu. Tidak
ada yang salah, katanya. Tidak ada yang salah. Bagi mereka yang
berpikiran bahwa agama adalah urusan pribadi tentunya demikian. Ketaatan
kepada agama adalah urusan dia dengan tuhannya. Bukan urusan orang
lain. Apalagi urusan negara.
Kalau kita bawa kepada aturan
agama, apakah tidak salah seorang laki-laki menyentuh dan merangkul
wanita yang bukan mahram? Tidak ada yang salah, katanya lagi. Ah yang
benar? Coba kita ganti orang yang bercambang dan berjanggut lebat itu
dengan petinggi partai yang kental sekali dengan ideologi Islamnya.
Kalau
jawabannya “salah”, itu jawaban yang tidak adil. Karena ukuran
kebenaran itu hanya untuk kelompoknya saja. Bukan untuk yang lain.
Ketika tuduhan itu menimpa kelompoknya mereka melakukan pembelaan. Namun
ketika menimpa di luar kelompoknya mereka diam. Seakan-akan tak punya
urusan dengan orang lain.
Kalau jawabannya “tidak salah”, ini pun
jawaban keblinger. Karena ukuran kebenarannya juga adalah kebenaran
manusia yang relatif, bukan kebenaran Tuhan melalui ajaran yang
disebarkan oleh para nabi dan rasul. Salah ataupun tidak salah adalah
jawaban ambivalen buat orang yang tidak memegang aturan agama sebagai
aturan tertinggi dalam hidupnya.
Cacian dan hujatan akan banyak
diterima oleh orang yang ditengarai publik sebagai orang baik ketika
orang baik itu terpeleset. Walaupun mereka sebenarnya tidak melanggar
syariat sama sekali. Bahkan menghindarkan dirinya dari perbuatan yang
merusak harga diri kemanusiaannya dengan perbuatan zina. Poligami
dicaci, zina direstui. Zaman sudah terbalik.
Kalau saja bos media
itu berasal dari kalangan Islam politik yang puritan, saya yakin ia
akan menghadapi makian tiada berkesudahan. Dia bukan dari kalangan yang
seharusnya “bermoral” maka tak ada “dosa” buatnya. Cap wajar masih bisa
disematkan kepadanya. Dan publik memelihara standar ganda ini. Ditambah
media yang terus menjadi alat pencitraan 24 jam dalam sehari, tujuh
hari dalam sepekan.
Maka silakan bersuka-ria dalam gerbong
sekulerisasi, karena tak akan pernah ditagih nilai. Jika kepleset,
media siap melindungi dan menyediakan sarana kamuflase dengan sebaran
pembentukan opini yang terbalik. Hukum? Bisa kebal juga. Ah, penyair
sekaligus pemerkosa itu siap-siap tidak akan pernah diadili di depan
meja hijau yang penuh hikmat itu.
Pemimpin negeri adalah cerminan
dari rakyatnya, kurang lebih Ibnu Qayyim Aljauziyah mengatakan
demikian. Dan sudah ada delapan juta lebih rakyat Indonesia melabuhkan
suara untuk partai yang didirikannya. Jangan pernah menggugat. Semuanya
berkisar pada refleksi.
Pada akhirnya saya teringat dengan apa
yang pernah dikatakan “ideolog” ini. Bahwa restorasi memang bukan jalan
pintas. Saya setuju sekali. Ingin rasanya saya menambahkan dengan
kalimat penutup berikut: Restorasi Indonesia seharusnya dimulai dari
diri sendiri.
Kalau tidak, restorasi terkesan banal dan sekadar
manis di mulut. Bahkan pedas namun tak berarti apa-apa. Serupa cabai
yang tak pernah berhenti disantap walau sudah kerap bertaubat.
[yq/islamedia] intrik

Tidak ada komentar
Posting Komentar