Baca Ayat Ini, Seorang Lelaki Ditolong Malaikat Membawa Pedang
Allah Ta’ala Mahakuasa. Dia mengabulkan
permintaan hamba-hamba-Nya yang tulus dalam panjatkan pinta. Dia
mendengar rintihan hamba-hamba-Nya dalam munajat panjang, penuh
kekhusyukan, dan tidak bertentangan dengan perintah-perintah-Nya.
Sungguh, janji pengabulan doa adalah kepastian bagi siapa yang
memanjatkannya dengan tulus dan ikhlas.
Imam Ibnu Asakir dan Imam Ibnul Qayyim
al-Jauziyah, sebagaimana dikutip Mas Udik Abdullah dalam Bagai Mengukir
di Atas Air, menyampaikan kisah pengabulan doa seorang hamba yang shaleh
di sudut Syam yang diberkahi. Kepada lelaki ini, Allah Ta’ala
menurunkan Malaikat untuk menolongnya.
Apakah amalan yang dilakukan oleh lelaki ini sehingga Malaikat diturunkan untuk menolongnya?
Lelaki shaleh ini sedang berjalan di
jalanan negeri Syam (salah satu kotanya). Disergap perampok, ia dipaksa
untuk menyerahkan seluruh perbekalan dan ancaman pembunuhan. Maka,
lelaki yang teduh wajahnya karena bekas wudhu ini meminta izin untuk
mendirikan shalat sunnah.
Diizinkan, ia memulai dua rakaat dengan
khusyuk. Di dalam shalatnya, ia teringat salah satu ayat suci dalam
al-Qur’an yang mulia. Karenanya, lelaki ini pun membaca ayat ini sampai
tiga kali dengan penuh kepasrahan diri.
أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا
مَّا تَذَكَّرُونَ
“Atau siapakah yang memperkenankan
(doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang
menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai
khalifah di bumi? Apakah selain Allah ada tuhan (yang lain)? Amat
sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (Qs. an-Naml [27]: 62)
Tiba-tiba, datanglah malaikat yang
membawa pedang seraya membunuh para perampok itu dengan pedang yang
dibawanya. Kepada lelaki ini, selepas shalatnya, malaikat berkata, “Aku
adalah utusan Zat Yang Maha Memperkenankan doa orang yang dalam
kesulitan.”
Demikianlah di antara keajaiban doa orang
shaleh yang dipanjatkan dengan ikhlas saat berada dalam kesulitan atau
suatu masalah. Sebab memang, Allah Ta’ala Maha Mengabulkan, dan amat
mudah untuk mewujudkan semua permintaan hamba-hamba-Nya.
Hanya saja, ada adab dan ketentuan yang
harus diperhatikan. Jangan sampai berlebihan, terkesan terburu-buru,
apalagi memaksa Allah Ta’ala untuk mengikuti kemauannya, padahal Dia
Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk hamba-Nya.
Dalam kisah ini, shalat dan membaca
al-Qur’an merupakan bentuk sunnah kebaikan. Bahwa kedua amalan ini
merupakan cara komunikasi yang paling aktif antara seorang hamba dengan
Rabbnya. Maka sampaikanlah pinta untuk kebaikan agama dan diri, dan Dia
pun akan mengabulkannya. [Pirman] [kisahikmah]

Tidak ada komentar
Posting Komentar