Breaking News

Pengukuhan KNSR Aceh Utara dan Lhoksumawe

Pengukuhan KNSR,(foto Laila)
Sinergi Masyarakat Sipil, Kokohkan Peradaban Humanis

Lhokseumawe. Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya (KNSR) mengukuhkan KNSR Aceh Wilayah Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, di Aula Kuta Karang, 22 Mei 2015.  

KNPI, IPSM, RAPI, HMI, LDK dan BEM se Aceh Utara dan Lhokseumawe, MPU, Forum Anak, KAMMI Aceh Utara, adalah lembaga yang telah berkontribusi membantu Pengungsi Rohingya di Aceh Utara. 

"Sebagai gerakan masyarakat, komite ini mewadahi kekuatan masyarakat sipil demi menolong Muslim Rohingya. KNSR berjuang di ranah advokasi dan diplomasi," tegas Syuhelmaidi Syukur, Presiden KNSR Pusat.

Syuhelmaidi Syukur mengatakan, memburuknya perlakuan Myanmar: pemerintah, ekstrimis Budha, bahkan tentu saja sebagai sebuah negara, terhadap etnis Rohingya, memaksa rakyat Indonesia bersikap. Pengukuhan KNSR Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe,  tindak lanjut pasca Deklarasi Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya (KNSR) dideklarasikan di Jakarta atas inisiasi ACT Foundation, 19 Mei 2015. 

Lebih jauh Syuhel mengatakan Myanmar “tak tersentuh hukum internasional” setelah merepotkan negara-negara tetangganya. Ia  sukses memperlihatkan performanya sebagai negara pelindung gerakan anti-Muslim. Ashin Wirathu, biksu Myanmar yang menyuarakan kebenciannya terhadap Muslim Rohingya, tetap segar-bugar  di Myanmar tanpa ada kekuatan hukum Myanmar yang menjamahnya meskipun ia sebut Muslim Rohingya sebagai “anjing gila” yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak.  Fakta tak terbantah, pemerintah, para biksu dan masyarakat Myanmar satu pikiran: Myanmar harus bersih dari Muslim Rohingya. 

Terjadi anomali  akut di kawasan ASEAN. Hubungan diplomatik negara-negara anggota ASEAN, adem-adem saja.  KTT ASEAN ke 25 tetap berlangsung di Nay Pyi Taw, Myanmar, 12 November 2014 lalu. Artinya, penghabisan dan pengeyahan beratus ribu Muslim Rohingya yang terus-menerus dari Myanmar,  tidak menjadi sesuatu yang mengusik hati nurani para pemimpin negara ASEAN.
Indonesia nyaman saja berinvestasi dengan Myanmar. Saat jutaan Muslim Rohingya dibantai, diusir, berlarian ke laut, entah berapa ratus atau ribu orang tewas dan jasadnya dibuang ke lautan.

“Saat itu (sejak 2012) ACT Foundation saja sampai tujuh kali mengirim Tim Kemanusiaan untuk menyantuni para pengungsi Muslim Rohingya. Kami – ACT Foundation – bisa berkali-kali mengirim Tim bukan karena kami hebat dan mampu, tapi karena gelombang pengungsian terus terjadi, dunia terus menyuarakannya dan masyarakat Indonesia juga terus-menerus memberi dukungan sehingga kami bisa memiliki cukup energi untuk membantu, meski tak mampu benar-benar memotong akar penyebab gelombang pembersihan etnis Rohingya itu,” ungkap Syuhelmaidi Syukur. 

Begitu banyak lembaga kemanusiaan dunia bergerak mengirim bantuan, tanpa diikuti langkah signifikan para pemimpin ASEAN untuk menghentikan pembantaian, pengusiran dan tentu saja penghapusan hak Muslim Myanmar. Kematian dan pengusiran masif etnis Rohingya dari Myanmar berjalan bertahun-tahun tanpa upaya konkret ASEAN menghentikannya. “ACT Foundation hadir sedikit membantu eksodus Myanmar di Cox Bazaar dan Kutopalong di Bangladesh,  tanpa punya daya ketika tiga lembaga kemanusiaan internasional yang beberapa tahun menyantuni pencari suaka dari Myanmar, diusir Pemerintah Bangladesh dengan dalih pemberian bantuan mereka bisa mengundang gelombang pengungsian ke Bangladesh,” papar Syuhelmaidi.

KNSR tidak ingin ada jalan bersimpang antara pegiat kemanusiaan di Indonesia dengan sikap Pemerintah Indonesia. Terjadinya gelombang manusia perahu, membuka mata dan hati dunia. Dunia memandang Indonesia. Negeri nerpenduduk Muslim terbesar di ASEAN ini, naif jika tidak memberi pertolongan konkret dan substantif bagi Muslim Rohingya.

Dalam gebalau manusia perahu di kawasan ASEAN, muncul orkestrasi indah masyarakat sipilnya. Heroisme nelayan Aceh menjemput manusia perahu langsung di lautan, menjadi inspirasi yang mendunia. Nelayan, kaum kecil yang hidup subsisten, menyisihkan kesempatannya melaut demi menyelamatkan Muslim Rohingya. 

Ya, masyarakat sipil dunia pun terpesona, dan bergegas bersinergi. Semua menaruh harapan pada masyarakat sipil Indonesia yang sudah dikenal humanis di dunia melalui kerja-kerja kemanusiaan di krisis pentas global. 

KNSR berikhtiar untuk tidak membiarkan Muslim Rohingya menjadi obyek belas-kasihan siapapun. Memanusiakan Muslim Rohingya, menebus kejahatan kemanusiaan atas pembiaran kezaliman atas mereka selama ini.  Kita sudah dengar banyak masyarakat Indonesia ingin mengadopsi anak-anak Rohingya. Kabar akan datangnya Angkatan Laut Turki menolong Rohingya yang kini ada di wilayah RI, Malaysia menjemput pencari suaka di laut dengan armada mereka, juga Filipina siap menampung pencari suaka dari Myanmar ini. Ini seharusnya memberi semangat hebat pemerintah RI untuk berbuat lebih baik, karena kita negara besar sekaligus humanis. Kalau rakyatnya humanis, tak elok pemerintahnya tidak mengimbangi humanisnya rakyat Indonesia dan dunia. 

"Sinergi masyarakat sipil, akan mengokohkan upayamewujudkan peradaban humanis," pungkas Syuhelmaidi


Tidak ada komentar