Belajar Teknologi, Pendidikan dan Budaya Matahari Terbit
KENANGAN : Tajul Anshor sesaat setelah tiba di Jepang dalam rangka pertukaran pelajar Indonesia-Jepang beberapa waktu yang lalu. Foto Tajul Anshor For Pontianak Post
Satu lagi prestasi anak daerah yang membanggakan. Setelah beberapa waktu lalu mahasiswa dari Politeknik Negeri Pontianak berhasil menjadi juara empat tingkat ASEAN kendaraan hemat energi, kali ini giliran mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Pontianak, Tajul Anshor. Dia berhasil mewakili Indonesia untuk pertukaran pelajar ke Jepang. AHMAD SOFI, Pontianak
PROGRAM pertukaran pelajar ini diadakan oleh Japan Internasional Cooperation Centre (JICC). Pertukaran pelajar ini dinamakan Jenesys. Yang berhasil berangkat ke Jepang dari Indonesia hanya ada 20 pelajar saja, termasuk Tajul Anshor. Dia juga satu-satunya pelajar utusan dari Kalimantan.“Dari Kalimantan hanya saya sendiri. Jadi satu orang Kalimantan, 2 orang dari Aceh, 1 orang dari Padang. Yang banyak dari ITB, UI, ITS Undip dan beberapa kampus yang saya kurang ingat,” ungkap Tajul, beberapa waktu yang lalu.
Menurutnya, pertukaran pelajar itu ada empat program yang dijalankan. Yaitu, perkenalan teknologi kedokteran yang ada di Jepang, darma wisata pendidikan, Cultur Understanding atau istilahnya diperkenalkan bagaimana tinggal dengan masyarakat Jepang mulai dari bagaimana Jepang secara geografis dan budayanya. Dan yang terakhir adalah, Home Stay atau seluruh peserta tinggal dengan orang Jepang selama tiga hari dengan segala tradisinya.
Selama berada di Jepang, peserta dari Indonesia ditempatkan di tiga provinsi. Keseluruhan peserta yang berjumlah 20 orang itu diroling dan berpindah-pindah di tiga provinsi tersebut. “Selama dua minggu itu kita terbang sana-terbang sini. Kita diperkenalkan dengan laboratorium canggih. Jadi intinya adalah perkenalan teknologi terkini yang ada di Jepang,” ujar Tajul anak dari tiga bersaudara ini.
PROGRAM pertukaran pelajar ini diadakan oleh Japan Internasional Cooperation Centre (JICC). Pertukaran pelajar ini dinamakan Jenesys. Yang berhasil berangkat ke Jepang dari Indonesia hanya ada 20 pelajar saja, termasuk Tajul Anshor. Dia juga satu-satunya pelajar utusan dari Kalimantan.“Dari Kalimantan hanya saya sendiri. Jadi satu orang Kalimantan, 2 orang dari Aceh, 1 orang dari Padang. Yang banyak dari ITB, UI, ITS Undip dan beberapa kampus yang saya kurang ingat,” ungkap Tajul, beberapa waktu yang lalu.
Menurutnya, pertukaran pelajar itu ada empat program yang dijalankan. Yaitu, perkenalan teknologi kedokteran yang ada di Jepang, darma wisata pendidikan, Cultur Understanding atau istilahnya diperkenalkan bagaimana tinggal dengan masyarakat Jepang mulai dari bagaimana Jepang secara geografis dan budayanya. Dan yang terakhir adalah, Home Stay atau seluruh peserta tinggal dengan orang Jepang selama tiga hari dengan segala tradisinya.
Selama berada di Jepang, peserta dari Indonesia ditempatkan di tiga provinsi. Keseluruhan peserta yang berjumlah 20 orang itu diroling dan berpindah-pindah di tiga provinsi tersebut. “Selama dua minggu itu kita terbang sana-terbang sini. Kita diperkenalkan dengan laboratorium canggih. Jadi intinya adalah perkenalan teknologi terkini yang ada di Jepang,” ujar Tajul anak dari tiga bersaudara ini.
Ia juga menjelaskan, para peserta dibawa sesuai dengan jurusannya masing-masing. “Kebetulan saya basicnya dari kedokteran di sana dibawa ke laboratorim yang bersifat medik. Tetapi bagi yang dari MIPA Biologi misalnya mereka dibawa kepada laboratorium tumbuh-tumbuhan,” tambahnya. Selain itu, para mahasiswa juga dibawa berkunjung ke kampus-kampus terkenal. Diantaranya Toyosaka Teknology University, Toyokawa Teknology University, Universitas Tokyo, dan ada beberapa kampus lainnya.
Tidak hanya itu, pelajar dari Indonesia ini juga berkesempatan untuk bertemu dengan peserta didik yang mencari ilmu di Jepang. “Kita juga bertemu Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang dan berkunjung ke markasnya sekaligus mendiskusikan bagaimana pendidikan di sana. Termasuk juga peluang-peluang beasiswa,” ujarnya.
Tidak hanya itu, pelajar dari Indonesia ini juga berkesempatan untuk bertemu dengan peserta didik yang mencari ilmu di Jepang. “Kita juga bertemu Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang dan berkunjung ke markasnya sekaligus mendiskusikan bagaimana pendidikan di sana. Termasuk juga peluang-peluang beasiswa,” ujarnya.
Lebih detail dia menceritakan bagaimana dia bisa terpilih dan berkesempatan untuk berangkat ke Jepang. “Peluang ini untuk semua Universitas yang ada di Indonesia. Tetapi waktu itu tidak tahu kenapa di Untan pengumumannya masih belum ada. Kebetulan waktu itu saya di share dari teman yang ada di Jogja,” cerita mahasiswa yang sudah ditinggal sang ayah ini. Menurutnya, jadi walaupun di Untan masih belum ada ia sudah menyiapkan apa saja yang harus disiapkan. Setelah itu minta rekomendasi dari akademik lalu dikirim ke Kedutaan Besar Jepang yang ada di Jakarta.
”Seminggu setelah itu ada wawancara lewat telepon sekitar 2 jam. Dalam wawancara itu gunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Alhamdulillah seminggu kemudian hasilnya bahwa saya lulus,” ceritanya. Lebih lanjut dia menceritakan, pengalaman yang baru dirasakan adalah bahwa ia merasa berasal dari keluarga yang tidak begitu istimewa. Terutama di dalam bidang ekonomi. ”Teman-teman yang ada di Fakultas Kedokteran ini rata-rata ekonominya menengah ke atas. Ada anak Kepala Dinas, ada anak pak profesor itu, pengusaha dan lain sebagainya. Sementara saya hanya punya ibu,” katanya.
Ia sangat bersyukur dengan kondisi seperti itu ternyata Allah masih memberikan kesempatan kepadanya. ”Saya ingat dari pesan Profesor yang ada di Tiuty, ” Kalau kalian ingin melihat negara kalian lihatlah dari luar. Jangan dari dalam. Kita bisa melihat O.... seperti ini di negara luar. Kurangnya di sini. Intinya kita bisa melihat lebih dan kurangnya,” tegasnya.
“Selain itu mulai dari infrastruktur dan building manajemen tidak bisa dikata. Mereka memang jauh di atas kita. Kita juga diajak untuk menikmati transportasi yang ada di Jepang. Mulai dari kereta api tercepat di dunia yang ada di Jepanng sampai penerbangan Jepang. Di jepang juga sangat toleran tidak seradikal yang ada di Eropa” ujarnya.
Jadi, sangat toleran dengan agama lain. Mungkin di sana masih belum terlalu sekuler. ”Misalnya kita butuh tempat yang suci untuk ibadah. Langsung disiapkan bahkan dibekali kompas untuk menentukan kiblat. Kita juga dibawa ke pabrik pembuatan mobil Toyota. Kemudian ke Sibuya Entertainment City. Di sana orang berjalannya cepat semua. Mereka berjalannya cepat. Kalau kita melihat orang yang lewat tidak sempat mengenal. Saking cepatnya berjalan mereka,” kenang mahasiswa kelahiran Sui Jaga tersebut. (*)

Tidak ada komentar
Posting Komentar