Breaking News

Penembak "Batman" Siapkan 6.000 Peluru

AP Photo/Ed Andrieski/Polis berjaga-jaga di luar bisokop Century 16, lokasi penembakan yang menewaskan setidaknya 12 orang dan melukai 50 orang saat pertunjukan perdana film terbaru Batman.
AURORA, KOMPAS.com - Pria bersenjata menembaki penonton di pemutaran perdana film terbaru Batman "The Dark Knight Rises" di Aurora, Colorado, Amerika Serikat, diketahui membeli lebih dari 6.000 butir peluru melalui internet dalam dua bulan terakhir, kata kepala polisi, Jumat (20/7/2012).

Semua amunisi itu dibeli secara legal, begitu juga empat senjata api yang digunakan pelaku bernama James Holmes di sebuah toko senjata setempat dalam 60 hari terakhir, kata Dan Oates, kepala kepolisian Aurora.

Pada kesempatan yang sama, Oates mengungkapkan perkembangan terakhir jumlah korban, yakni sekitar 70 orang. Dari 12 korban tewas, 10 di antaranya meninggal di lokasi kejadian.

"Hampir setiap orang tertembak," ucapnya. Dikatakannya, hanya beberapa saja yang dirawat di rumah sakit tidak mengalami luka tembak, melainkan terluka dalam kekacauan tersebut.

"Dalam 60 hari terakhir, Holmes membeli empat senjata api di beberapa toko senjata setempat dan melalui internet. Dia membeli lebih dari 6.000 butir peluru," papar Oates, yang beberapa kali terlihat berusaha menguasai emosi.

Amunisi itu terdiri dari 3.000 lebih peluru untuk senapan serbu, 3.000 butir untuk pistol Glock, dan 300 peluru untuk senapan.

"Juga melalui internet, dia membeli sejumlah magasin untuk senapan serbu kaliber .223, termasuk magasin untuk 100 peluru, yang kemudian diamankan di lokasi kejadian," Oates menambahkan.

"Saya mendapat informasi dari para pakar, dengan magasin itu dia bisa memberondongkan antara 50 hingga 60 peluru... dalam satu menit. Sejauh yang kami tahu, berondongan peluru di gedung bioskop itu cukup cepat," Oates menjelaskan.

"Sepengetahuan saya, semua senjata miliknya itu legal, semua magasinnya legal, dan semua peluru itu didapatkannya secara legal," imbuh Oates.

Kasus penembakan membabi-buta terbaru itu mengangkat kembali perdebatan tentang pengendalian kepemilikan senjata api di Amerika Serikat. Sebuah lobi yang didukung Asosiasi Senjata Api Nasional (NRA) menuduh Presiden Barack Obama berpihak pada perjanjian PBB untuk membatasi hak konstitusi rakyat AS untuk memiliki senjata api sebanyak yang mereka inginkan. 

Tidak ada komentar