Breaking News

Potensi Gangguan Kesehatan Saat Puasa dan Cara Mengatasinya

Ilustrasi/ yahoo.com
HabaKesehatan_Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Berbagai keutamaan di bulan suci ini menjadikan seluruh umat Islam bersemangat untuk menjalankan kewajiban berpuasa. Bahkan, meskipun dalam keadaan sakit, sebagian besar dari kita tetap berusaha untuk melaksanakan kewajiban berpuasa tersebut.
Secara bahasa, berpuasa artinya adalah menahan diri. Puasa Ramadhan dijalankan oleh umat Islam dengan cara menahan diri dari makan, minum, dan melakukan hubungan seks dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Oleh karena itu, beribadah puasa membutuhkan kondisi fisik yang baik. Islam membebaskan orang sakit, orang tua yang tidak mampu secara fisik, dan orang yang sedang berpergian dari kewajiban puasa dengan menggantinya dihari lain (diluar bulan Ramadhan) atau membayar fidyah (memberi makan kepada orang yang berpuasa). Hal ini adalah karena Allah hanya menghendaki kebaikan bagi manusia, dan tidak memberatkannya.
Sebagai bentuk ibadah fisik, berpuasa memiliki potensi menimbulkan gangguan kesehatan. Oleh karena itu, penting bagi para shaaimiin (orang-orang yang berpuasa) untuk menjaga kondisi fisiknya tetap sehat, sehingga sempurna ibadah puasa mereka hingga akhir bulan Ramadhan.
Potensi gangguan kesehatan yang pertama saat puasa adalah heartburn atau rasa terbakar/panas di daerah dada. Lambung memiliki lingkungan yang bersifat asam dan didesain untuk mencerna makanan dan membunuh bakteri. Lambung dan kerongkongan memiliki kekebalan dari asam lambung karena memiliki cairan tubuh yang melindungi serta katup antara lambung dan kerongkongan. Jika satu atau kedua pelindung tersebut mengalami gangguan, maka seseorang akan mengalami heartburn. Berpuasa biasanya dapat mengurangi produksi asam lambung, tetapi berpikir tentang makanan atau membaui-nya dapat meningkatkan produksi asam lambung tersebut. Meningkatnya asam lambung akan dapat menyebabkan heartburn saat puasa.
Bagi umat Islam yang secara rutin mengkonsumsi obat-obatan untuk pencernaan, seperti antasida, antihistamin, atau kelas obat penghambat proton disarankan untuk tetap mengkonsumsinya saat sahur. Untuk memperkecil potensi terjadinya heartburn, disarankan untuk makan secukupnya, menghindari makan yang berminyak atau pedas, dan mengurangi konsumsi kopi dan rokok. Tidur dengan posisi kepala yang sedikit lebih tinggi juga dapat mencegah terjadinya heartburn.
Potensi gangguan kesehatan yang kedua adalah bahaya yang muncul karena komplikasi dari penyakit kronis yang telah diderita. Salah satu yang harus diwaspadai adalah komplikasi pada pasien-pasien diabetes (kencing manis). Bagi mereka yang menggunakan suntikan insulin untuk mengkontrol kadar gula darah disarankan untuk tidak berpuasa karena risiko jangka pendek dan jangka panjang yang sering kali serius. Bagi pasien yang kadar gula darahnya terkontrol baik disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum bulan Ramadhan mulai. Konsultasi tersebut dimaksudkan untuk mencari obat yang lebih aman saat puasa. Jika tidak dilakukan, pasien-pasien ini akan berisiko untuk mengalami gangguan kadar gula darah saat puasa atau bahkan saat berbuka.
Bagi pasien diabetes, sangat disarankan untuk melakukan pengukuran kadar gula darah secara berkala di bulan Ramadhan. Kadar gula darah yang rendah (hipoglikemia) dapat sangat berbahaya, dan jika tidak diatasi akan dapat menyebabkan hilangnya kesadaran (pingsan) hingga kejang. Pusing, berkeringat dingin, dan disorientasi (kesadaran menurun) merupakan tanda-tanda dari terjadinya hipoglikemia. Jika gejala-gejala tersebut muncul maka harus segera minum atau makan sesuatu yang manis (sirup, permen, dan semacamnya). Obat-obatan seperti glibenklamid yang memiliki efek jangka panjang akan meningkatkan risiko terjadinya hipoglikemia dan harus diganti dengan jenis obat yang memiliki efek yang lebih pendek. Bagi pasien-pasien diabetes dengan komplikasi, seperti angina atau gagal jantung, stroke, retinopati (gangguan pengelihatan), nephropati (gangguan ginjal), dan neuropati (gangguan saraf, biasanya berupa rasa kebas atau hilangnya kemampuan untuk merasa) harus berkonsultasi secara lebih serius sebelum mulai berpuasa.
Gangguan yang muncul karena penyakit kronis lainnya, seperti hipertensi dan asma dapat dikontrol dengan menggunakan obat. Pemilihan obat yang tepat sangat penting untuk menghindari terjadinya serangan stroke atau asma. Konsultasi dengan dokter harus dilakukan sebelum puasa untuk melakukan penyesuaian jenis dan cara mengkonsumsi obat. Hindari penggunaan obat yang harus diminum 3x sehari, dan ganti dengan sediaan obat yang dapat diminum 2x atau bahkan 1x sehari.
Potensi gangguan kesehatan yang ketiga adalah sakit kepala. Sakit kepala saat puasa merupakan gangguan kesehatan yang paling sering terjadi dan memiliki berbagai penyebab, diantaranya karena dehidrasi (kekurangan cairan), kelaparan, istirahat yang kurang, atau karena tidak adanya substansi/zat kimia penagih seperti kafein atau nikotin.
Makan-makanan secara seimbang dan cukup, khususnya dengan tidak melewatkan makan sahur, mengkonsumsi cukup cairan, dan jika diperlukan mengkonsumsi obat-obatan seperti paracetamol atau penghilang nyeri lainnya, dapat sangat berguna untuk mencegah atau mengurangi risiko terjadinya sakit kepala. Sakit kepada juga dapat dicegah dengan menghindari paparan sinar matahari langsung, menggunakan penutup kepala saat berada diluar ruangan, menggunakan kaca mata gelap untuk menghindari sinar matahari atau menghilangkan ketegangan otot dengan massage (pijat).
Bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit migraine (pusing kepala sebelah) yang berat atau sering harus mempersiapkan diri secara lebih serius dengan cara merubah kebiasaan hidup dan atau pengobatan jika diperlukan sebelum bulan puasa dimulai. Jika keadaan sakit kepala ini terjadi secara menetap hingga menyebabkan seseorang tidak dapat beraktifitas, maka haruslah secepatnya menemui dokter.
Potensi gangguan kesehatan yang keempat adalah dehidrasi. Saat berpuasa, tubuh kehilangan air dan garam secara terus menerus melalui pernafasan, keringat, dan buang air kecil. Jumlah air tubuh yang hilang tergantung dari keadaan cuaca, jumlah air yang diminum sebelum puasa, derajat aktifitas fisik, dan kemampuan ginjal untuk menahan air dan garam. Ancaman dehidrasi lebih besar terjadi pada orang-orang usia lanjut dan orang-orang dengan pengobatan diuretic (anti-hipertensi). Tergantung dari derajat dehidrasi yang dialami, seseorang akan mengalami gejala/rasa yang tidak nyaman, letargi (kelelahan), kram otot, pusing, disorientasi, hingga pingsang. Jika gejala-gejala tersebut muncul maka seseorang harus segera minum cairan oralit. Jika seseorang pingsan karena dehidrasi, maka dia harus diposisikan terlentang (oleh orang lain) dengan kaki lebih tinggi dari kepala dan saat terbangun harus segera diberi cairan oralit.
Potensi gangguan kesehatan karena puasa yang kelima adalah konstipasi (gangguan buang air besar yang berupa buangan yang keras dan sulit dikeluarkan). Gangguan ini sedikit banyak akan mengganggu seseorang saat puasa, terlebih lagi bagi mereka yang memiliki wasir. Mengkonsumsi cukup cairan, makan makanan yang sehat, banyak mengkonsumsi buah dan sayuran, meningkatkan konsumsi serat, dan menjaga tubuh tetap aktif akan dapat membantu mempertahankan gerakan usus tetap normal.
Potensi gangguan kesehatan yang keenam adalah stress. Kurangnya cairan dan makanan, perubahan rutinitas fisik, dan berkurangnya waktu tidur (istirahat) dapat menyebabkan stress. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi penyebab-penyebab stress sehingga dapat menghindarinya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara tidak melakukan hal-hal diluar kemampuan diri yang wajar, tidak beraktifitas dibawah terik matahari langsung, menahan marah, serta menghindari merokok.
Potensi gangguan kesehatan yang terakhir dan paling mengejutkan adalah kemungkinan terjadnya obesitas (kegemukan). Kebiasaan makan dan minum yang berlebihan saat buka dan sahur dapat menyebabkan bertambahnya berat badan kita dibulan Ramadhan. Kegemukan saat ini telah menjadi penyakit umum di masyarakat dan telah menimbulkan berbagai efek/gangguan kesehatan yang serius. Sungguh ironis jika kita mengalami kegemukan saat bulan Ramadhan. Cara terbaik untuk menghindarinya adalah dengan berdisiplin dalam mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw dalam berpuasa. Hanya dengan cara Rasulullah saw, maka keinginan kita untuk mendapatkan manfaat spiritual dan fisik saat dibulan Ramadhan akan tercapai. Sesungguhnya, sunnah Nabi Muhammad saw adalah amalan yang paling baik bagi kita, baik untuk kepentingan dunia maupun akherat.
Penulis
dr. Nur Azid Mahardinata
Mahasiswa Program S3
University of Amsterdam - the Netherlands

Tidak ada komentar