Mencari Pahlawan Indonesia (05)
Oleh Anis Matta
Seri 05: Pengorbanan
![]() |
| anis matta |
Akan tetapi, kebaikan dan kekuatan itu bukanlah untuk dirinya
sendiri, melainkan merupakan rangkaian amal menjadi jasanya bagi
kehidupan masyarakat manusia. Itulah sebabnya tidak semua orang baik dan
kuat menjadi pahlawan yang dikenang dalam ingatan kolektif masyarakat
atau apa yang kita sebut sejarah. Hanya apabila kebaikan dan kekuatan
menjelma jadi matahari yang menerangi kehidupan, atau pumama yang
merubah malam jadi indah, atau air yang menghilangkan dahaga.
Nilai sosial setiap kita terletak pada apa yang kita berikan kepada masyarakat, atau pada kadar manfaat yang dirasakan masyarakat dari keseluruhan performance kepribadian kita. Maka, Rasulullah saw berkata, “”Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”
Nilai sosial setiap kita terletak pada apa yang kita berikan kepada masyarakat, atau pada kadar manfaat yang dirasakan masyarakat dari keseluruhan performance kepribadian kita. Maka, Rasulullah saw berkata, “”Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”
Demikianlah, kita menobatkan seseorang menjadi pahlawan karena ada begitu banyak hal yang telah ia berikan kepada masyarakat.
Maka, takdir seorang pahlawan adalah bahwa ia tidak pernah hidup dan
berpikir dalam lingkup dirinya sendiri. Ia telah melampui batas-batas
kebutuhan psikologis dan biologisnya. Batas-batas kebutuhan itu bahkan
telah hilang dan lebur dalam batas kebutuhan kolektif masyarakatnya di
mana segenap pikiran dan jiwanya tercurahkan.
Dalam makna inilah pengorbanan menemukan dirinya sebagai kata kunci
kepahlawanan seseorang. Di sini ia bertemu dengan pertanggungjawaban,
keberanian, dan kesabaran. Tiga hal terakhir ini adalah wadah-wadah
kepribadian yang hanya akan menemukan makna dan fungsi kepahlawanannya
apabila ada pengorbanan yang mengisi dan menggerakkannya. Pengorbananlah
yang memberi arti dan fungsi kepahlawanan bagi sifat-sifat
pertanggungjawaban, keberanian, dan kesabaran.
Maka, keempat makna dan sifat ini—rasa tanggung jawab keagamaan,
semangat pengorbanan, keberaninn jiwa, dan kesabaran, adalah rangkaian
dasar yang seluruhnya terkandung dalam ayat-ayat jihad. Dorongannya
adalah tanggung jawab keagamaan (semacam semangat penyebaran dan
pembelaan). Hakikat dan tabiatnya adalah pengorbanan. Perisainya
keberanian jiwa. Namun. nafas panjangnya adalah kesabaran.
Maka, benarlah apa yang dikatakan Sayyid Quthb, “Orang yang hidup
bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai
orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup
sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.”
Kaidah itu tidak saja berlaku bagi kehidupan individu, tetapi juga
merupakan kaidah universal yang berlaku bagi komunitas manusi. Syakib
Arselan, pemikir Muslim asal Syiria, yang menulis buku Mengapa Kaum
Muslimin Mundur dan Orang Barat Maju menjelaskan jawabannya dalam
kalimat yang sederhana, “Karena, ” kata Syakib Arselan, “orang-orang
Barat lebih banyak berkorban daripada kaum Muslimin. Mereka memberi
lebih banyak demi agama mereka ketimbang apa yang diberikan kaum
Muslimin bagi agamanya.”
Sekarang, mengertilah kita. Dan ketika ada pertanyaan, “Apakah yang
dibutuhkan untuk menegakkan agama ini dalam realitas kehidupan?” Maka
jawabnya adalah hadirnya para pahlawan sejati yang tidak lagi hidup bagi
dirinya sendiri, tetapi hidup bagi orang lain dan agamanya, serta mau
mengorbankan semua yang ia miliki bagi agamanya.
sumber: Buku Mencari Pahlawan Indonesia

Tidak ada komentar
Posting Komentar