Seandainya Korban Pembunuhan Keji Itu Bukan Muslim
![]() |
| foto :thejournal.ie |
North Carolina -- "Tiga Muslim dibunuh seorang penembak? Ah! Bukan breaking news," demikian kalimat dalam karikatur di akun Twitter.
Karikatur itu dimuat situs dailycaller.com, di bawah berita berjudul; Progressive Atheist Kills Three Muslim Students, Media Ignores. Beritanya pendek saja; Tiga mahasiswa Muslim; suami-istri Deah Shaddy Barakat dan Yusor Mohammad, keduanya berusia 23 dan 21, serta Raza Mohammad Abu-Salha -- adik Yusor Mohammad.
New York Times melaporkan pembunuhan itu, dan menyebut Craig Stephen Hicks, sang pembunuh berusia 46 tahun, sebagai ateis. CNN baru memberitakan 24 jam lebih setelah peristiwa itu. Washington Post juga melakukan tindakan memalukan yang sama.

Ketiganya, serta koran-koran mainstream lainnya, sama sekali tidak menyebut persoalan politik, rasisme, dan -- lebih tegas lagi -- Islamofobia, di balik peristiwa ini.
Los Angeles Times menulis ketiganya dibunuh Selasa (10/2) sore, tapi tidak dirilis secara resmi oleh Kepolisian Chapel Hill, North Carolina. Hanya News and Observer dan jaringan televisi lokal WNCN yang mengangkat berita itu.
Situs ibtimes.co.uk mengutip dari keduanya, dan memberikan berita secara datar. The Independent muncul hampir 24 jam setelah peristiwa, dengan mengutip pernyataan Jaksa Distrik North Carolina bahwa pembunuhan itu tidak berkaitan dengan Islamofobia.
Los Angeles Times menulis muncul ketakutan di kalangan pemukim Arab di AS, terutama pemeluk Islam, bahwa kekerasan terhadap Muslim tidak lagi menjadi perhatian media mainstream, sama seperti pembunuhan orang Kristen dan Yahudi.
"Anda tidak akan menyaksikan berita ini karena yang dibunuh Muslim," tulis satu pengguna Twitter, yang re-tweeted lebih 1.400 kali. "Apakah keimanan mereka yang melatari keputusan tidak memberitakan peristiwa ini."
"Jika pembunuhnya Muslim, dan korbannya pemeluk Kristen atau Yahudi, seluruh media maisntream mengeksplorasi habis-habisan dan bebas memaki Islam dan seluruh Muslim di dunia," tulis pengguna Twitter lainnya.
"Ah, karena pembunuhnya orang kulit putih ateis, jadi berita ini biasa saja. Bayangkan jika sebaliknya."
Media mainstream AS baru bergerak Rabu (11/2) tengah hari waktus setempat, atau Kamis (12/2) WIB, Beberapa mengirim wartawannya ke Chapel Hill.
"Semua itu tidak menghilangkan kepahitan kami," tulis pengguna Twitter. Lainnya menggunakan hashtag Chapel Hill Massacre, untuk memperluas insiden ini. -
sumber: inilah

Tidak ada komentar
Posting Komentar